Pemkot Semarang Hapus Status Guru Honorer Mulai 2026, Begini Mekanismenya

2026-01-11 22:09:09
Pemkot Semarang Hapus Status Guru Honorer Mulai 2026, Begini Mekanismenya
SEMARANG, - Pemerintah Kota Semarang memastikan tidak akan ada lagi guru berstatus honorer di wilayah Ibu Kota Jawa Tengah mulai tahun 2026.Seluruh guru honorer akan dialihstatuskan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), baik penuh waktu maupun paruh waktu."Kita bersyukur, guru honorer mulai tahun 2026 nanti sudah tidak ada lagi. Sudah kami angkat menjadi PPPK penuh waktu maupun paruh waktu," kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Rabu .Baca juga: Gaji Dibayar 6 Bulan Sekali, Guru Honorer di Bangkalan Rela Mengabdi di Pelosok untuk Cerdaskan Anak DesaAgustina menegaskan kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan kesejahteraan guru.Ia menambahkan, untuk dapat diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui skema PPPK, setiap guru wajib tersertifikasi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG)."Hal ini adalah dalam rangka menjamin anak didik oleh guru yang terstandardisasi secara nasional," jelasnya.Pemkot Semarang menargetkan akselerasi pengangkatan. Sekitar 400 guru honorer akan dilantik sebagai PPPK pada akhir Desember 2025."Mereka akan mulai bekerja nanti 1 Januari 2026. Dengan 400 guru yang akan masuk pada 1 Januari itu, maka kebutuhan guru di Kota Semarang sudah terpenuhi semuanya," ucap Agustina.Baca juga: Kisah Bu Tari, Guru Honorer Berjuang Bangun Kedai Susu Hits di Pati Modal Cincin KawinDengan kebijakan ini, istilah guru honorer, guru bantu, atau guru outsourcing di lingkungan Pemkot Semarang akan dihapuskan sepenuhnya.Selain pengangkatan guru, kebijakan serupa diberlakukan untuk pengisian jabatan kepala sekolah, yang prosesnya telah dimulai melalui pendidikan dan pelatihan beberapa waktu lalu.Agustina juga mengajak para guru untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar pola mengajar lebih relevan bagi siswa."Supaya pola pengajarannya itu tidak konvensional. Sehingga jarak antara guru dan murid itu bisa didekatkan lagi. Kalau misalnya guru-guru ini bisa mendekati anak berarti bisa mengerti anak-anak didiknya. Kalau dulu kan top down," ujarnya.


(prf/ega)