Riset UI Tunjukkan, Lulusan SMK Lebih Optimis Cari Kerja daripada SMA

2026-01-14 09:20:53
Riset UI Tunjukkan, Lulusan SMK Lebih Optimis Cari Kerja daripada SMA
- Di masa orang berbondong-bondong mengejar gelar sarjana, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mungkin semakin kurang dilirik.Pilihan untuk melanjutkan studi ke universitas dianggap lebih terbatas bagi lulusan SMK dibanding tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA).Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 total jumlah murid SMK adalah 5.066.424 orang.Sementara jumlah murid SMA di seluruh Indonesia lebih banyak, yakni 5.400.167 orang.Padahal jumlah sekolah SMA dan SMK di Indonesia hampir seimbang. Jumlah SMA ada 14.675 unit dan SMK sejumlah 14.325 unit.Namun nyatanya mereka yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di SMK lebih optimis untuk mencari kerja daripada yang menyelesaikan pembelajaran di SMA.Data ini tertuang dalam laporan Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), yang dirilis pada akhir November 2025.Laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri, Ph.D. dan Nia Kurnia Sholihah, M.E. itu berjudul "Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia."Baca juga: 1,87 Juta Rakyat Sudah Putus Asa, Negara Telat Ciptakan Pekerjaan BerkualitasBerdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Februari 2025 yang telah diolah, tercatat 1,873,277 orang Indonesia tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa.Di antara angka tersebut, para lulusan SMK yang merasa putus asa untuk mendapatkan pekerjaan menyumbang 8,09 persen atau di peringkat keempat.Hasil ini menunjukkan keoptimisan yang sedikit lebih baik karena ternyata mengungguli keputusasaan lulusan SMA.Mereka yang pendidikan terakhirnya SMA berada di urutan ketiga, dengan 17,29 persen. "Komposisi lulusan SMK yang mencapai delapan persen juga menarik. SMK secara teoritis dirancang untuk melahirkan tenaga kerja siap masuk industri, tetapi angka ini mengisyaratkan adanya kesenjangan antara kurikulum vokasional dan kebutuhan nyata tempat kerja," isi penjelasan dalam laporan tersebut.Labor Market Brief juga menyebut bahwa lembaga internasional seperti Asian Development Bank (ADB) sering menekankan apabila sistem sekolah vokasi yang tidak diperbarui secara berkala dapat mengarah pada kegagalan menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang relevan.Inilah yang pada akhirnya menurunkan kepercayaan diri mereka dalam mencari pekerjaan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 07:35