Rujukan Berbasis Kompetensi dan Ketergantungan pada Rumah Sakit

2026-01-12 07:09:25
Rujukan Berbasis Kompetensi dan Ketergantungan pada Rumah Sakit
PERUBAHAN sistem rujukan layanan kesehatan menjadi perbincangan hangat setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan rencana perbaikan pola rujukan yang lebih menekankan kompetensi fasilitas kesehatan.Gagasan itu sesungguhnya bukan hal baru, tetapi menjadi relevan ketika beban rumah sakit meningkat, budaya kuratif masyarakat tetap dominan, dan transformasi layanan primer masih berjalan.Pertanyaanya, apakah rujukan berbasis kompetensi dapat menjadi jawaban untuk mengatasi masalah dalam layanan kesehatan kita, atau justru memunculkan persoalan baru?Faktanya, terlihat ketergantungan berlebihan masyarakat pada rumah sakit. Secara sosio kultural, masyarakat Indonesia telah lama memosisikan rumah sakit sebagai tempat mencari kesembuhan yang pasti.Puskesmas dan klinik sering dianggap sebagai tempat pengobatan penyakit ringan, bahkan terkadang sebagai fasilitas administratif untuk mendapatkan surat rujukan. Akibatnya rumah sakit menjadi tujuan utama, bukan lagi menjadi pilihan layanan.Baca juga: Benang Kusut Persoalan PPPK Jadi PNSData BPJS Kesehatan beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa jumlah rujukan ke rumah sakit terus meningkat. Tidak hanya kasus yang seharusnya ditangani fasilitas primer, tetapi juga penyakit tergolong ringan.Jumlah rujukan nasional mencapai 18 juta-20 juta per tahun, atau rata-rata 50.000 rujukan setiap hari.Angka yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan kapasitas layanan primer (puskesmas, klinik) yang seharusnya mampu menyerap sebagian besar masalah kesehatan masyarakat.Sebanyak sekitar 15-20 persen kunjungan layanan primer akan mendapatkan surat rujukan. Namun demikian, rujukan yang salah tidak menjadi kinerja puskesmas. Rujukan dengan indikasi medis non rujukan di atas 5 persen menunjukkan kapasitas puskesmas yang belum baik.Kondisi yang mengakibatkan beban layanan rumah sakit menjadi berlebihan, sehingga waktu tunggu meningkat dan mutu pelayanan terancam turun.Sementara pemanfaatan layanan primer menjadi rendah. Padahal di banyak negara dengan sistem layanan kesehatan kuat, justru puskesmas dan fasilitas layanan primer lainnya memegang peran paling strategis dalam menentukan efektivitas dan efisiensi layanan.Di sinilah rencana perbaikan sistem rujukan berbasis kompetensi menemukan relevansinya.Kita memahami rujukan sebagai perpindahan dari fasilitas layanan primer ke fasilitas layanan kesehatan sekunder atau tersier. Dari Puskesmas ke rumah sakit tipe C, kemudian ke tipe B atau tipe A. Konsep rujukan berjenjang yang telah berlangsung lama.Kini makin banyak rumah sakit menawarkan layanan medis unggulan yang tidak dimiliki rumah sakit lain. Makin banyak dokter spesialis dan subspesialis ditempatkan di rumah sakit yang menjadi unggulan dalam layanannya.Dalam rujukan berbasis kompetensi, struktur layanan itu tidak selalu linear. Yang menjadi penentu adalah kemampuan fasilitas lanjutan dalam menangani diagnosis masalah kesehatan yang dialami, bukan status tipologinya.


(prf/ega)