Menag Nasaruddin Dorong Tafsir Berbasis Budaya dan Konteks KeIndonesiaan

2026-01-12 05:33:30
Menag Nasaruddin Dorong Tafsir Berbasis Budaya dan Konteks KeIndonesiaan
Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menuturkan, pada zaman dahulu kala, kebenaran mudah dirujuk sesuai yang dikatakan oleh Al-Qur'an dan Alkitab, termasuk mengikuti apa yang disampaikan ulama. Namun di era masa kini, kekuatan media dan politik dapat menenggelamkan kebenaran sejati."Al-Qur'an dimulai dengan Iqra' bismi rabbik. Iqra' itu induktif, bismi rabbik itu deduktif. Keduanya harus dipadukan," ujar Nasaruddin saat membuka Ijtimak Ulama Tafsir Al-Qur'an di Jakarta, seperti dikutip dari siaran pers, Kamis .Nasaruddin pun menekankan, pentingnya kolaborasi antara rasio dan rasa dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Dia mencatat, ada ayat yang dijelaskan melalui konsentrasi intelektual, tetapi ada pula yang hanya dapat dipahami melalui kontemplasi.Advertisement"Perkawinan rasio dan rasa itulah yang akan melahirkan tafsir yang membumi dan menyentuh dimensi batin manusia," terang Nasaruddin.Dia menegaskan, karya tafsir yang disusun harus menjadi tafsir negara dan tafsir Indonesia. Artinya, tafsir itu mengintegrasikan antropologi, budaya, dan konteks keIndonesiaan."Setiap bangsa memiliki culture right dalam memahami Al-Qur'an dan itu diakui dalam tradisi tafsir. Karena itu, kita perlu memasukkan perspektif budaya dan sosiologi dalam penyusunan tafsir," ucap Nasaruddin.Imam Besar Masjid Istiqlal ini berharap, Ijtimak Ulama Tafsir dapat melahirkan pandangan yang mencerahkan dan kritik konstruktif, sehingga tafsir yang dihasilkan semakin memantulkan wajah Islam yang penuh kasih."Forum Ijtimak ini menjadi ruang strategis bagi ulama, akademisi, dan pemerhati tafsir untuk membahas penyempurnaan tiga juz tafsir Al-Qur’an yang telah diselesaikan Kemenag, sekaligus menggelar uji publik atas tafsir tersebut," yakin dia menandasi. 


(prf/ega)