Batu Pucat Ungkap Jejak Bahwa Planet Mars Pernah Menyerupai Oasis

2026-01-12 07:18:06
Batu Pucat Ungkap Jejak Bahwa Planet Mars Pernah Menyerupai Oasis
- Penemuan batuan berwarna pucat di permukaan Mars kembali memantik pertanyaan besar tentang masa lalu planet tersebut. Apakah Mars yang kini kering dan dingin pernah menjadi tempat yang hangat, lembap, dan diguyur hujan deras seperti daerah tropis di Bumi? Temuan terbaru dari rover NASA Perseverance memberi petunjuk kuat bahwa jawabannya mungkin ya.Para peneliti dibuat penasaran oleh keberadaan batuan berwarna terang yang tampak “seperti terendam pemutih” di wilayah eksplorasi Perseverance. Setelah dianalisis lebih jauh, batuan tersebut ternyata mengandung kaolinit, sejenis mineral lempung kaya aluminium.Di Bumi, kaolinit hampir selalu terbentuk dalam kondisi sangat hangat dan lembap, seperti yang ditemukan di hutan hujan tropis. Mineral ini muncul ketika batuan mengalami pelapukan intens selama jutaan tahun akibat curah hujan tinggi. Karena itu, kehadiran kaolinit di Mars terasa janggal—planet ini kini terkenal sangat kering dan sangat dingin.“Ketika Anda menemukan kaolinit di tempat seperti Mars, yang tandus, dingin, dan jelas tidak memiliki air cair di permukaan, itu menunjukkan bahwa dulu pernah ada jauh lebih banyak air daripada sekarang,” ujar Adrian Broz, ilmuwan tanah dari Purdue University sekaligus penulis utama studi tersebut.Baca juga: Batuan di Mars Buktikan Planet Merah Dulunya Punya Iklim Hujan TropisBroz dan timnya membandingkan struktur kaolinit Mars—yang dianalisis menggunakan berbagai instrumen pada Perseverance—dengan sampel kaolinit dari Afrika Selatan dan San Diego. Hasilnya mengejutkan: komposisinya sangat mirip, seolah-olah terbentuk melalui proses geologi yang sama.Citra satelit juga menunjukkan bahwa deposit kaolinit yang lebih besar mungkin tersebar di berbagai wilayah Mars. Sayangnya, sejauh ini tak satu pun rover telah mencapai lokasi-lokasi tersebut untuk konfirmasi langsung.“Sampai kita bisa benar-benar mencapai singkapan besar itu dengan rover, batuan kecil ini adalah satu-satunya bukti lapangan yang kita miliki,” kata Briony Horgan, ilmuwan planet dari Purdue University dan rekan penulis studi.Baca juga: Ada Endapan Batuan Keras di Mars, Diyakini Mirip Tempat Kehidupan Tertua di BumiKeberadaan kaolinit menambah bobot teori bahwa Mars pernah menjadi oasis basah di masa purba. Namun, bagaimana planet itu berubah menjadi dunia kering yang kita lihat saat ini masih menjadi perdebatan ilmiah.Hipotesis terkuat menyebutkan bahwa Mars kehilangan airnya antara 3 hingga 4 miliar tahun lalu, saat medan magnetnya melemah. Tanpa perlindungan magnet, angin matahari perlahan-lahan mengikis atmosfer Mars, membuat air permukaannya menguap dan hilang ke ruang angkasa.Namun, para ilmuwan percaya proses itu mungkin jauh lebih kompleks. Dengan mempelajari mineral lempung purba seperti kaolinit, mereka berharap bisa mengungkap fase-fase perubahan iklim Mars secara lebih detail.Baca juga: Misteri Garis Hitam di Mars Ternyata Dipicu Longsor Debu Kering, Bukan AirSelain menjelaskan evolusi geologi Mars, temuan ini juga membuka pintu pada pertanyaan penting: apakah kehidupan pernah ada di sana?“Semua bentuk kehidupan membutuhkan air,” ujar Broz, mengingatkan bahwa temuan mineral berair seperti kaolinit dapat membantu peneliti menilai potensi keterhuniannya di masa lalu.Jika Mars memang pernah tropis dengan hujan deras yang membentuk mineral kaolinit, maka kemungkinan bahwa mikroorganisme pernah hidup di sana—sebuah ide yang dulu dianggap mustahil—kini tampak semakin masuk akal.Baca juga: Jika Alien Hidup di Mars 3,7 Miliar Tahun Lalu, Mereka Mungkin Butuh Payung


(prf/ega)