SELAMA lebih dari tiga dekade, Republik Somaliland berdiri sebagai anomali di Tanduk Afrika. Memiliki mata uang, paspor, angkatan bersenjata, hingga sistem pemilu demokratis yang stabil, wilayah ini secara de facto adalah sebuah negara.Namun, di peta dunia, ia tetap dianggap sebagai bagian dari Somalia.Keheningan diplomatik yang panjang itu pecah ketika Israel secara resmi mengakui kedaulatan Somaliland, langkah yang tidak hanya memberi legitimasi bagi Hargeisa, tetapi juga menyulut api kemarahan di Mogadishu dan kegelisahan di markas Uni Eropa.Keputusan Israel, negara anggota PBB pertama yang mengakui Somaliland bukanlah tanpa kalkulasi.Secara geopolitik, Israel berkepentingan mengamankan pengaruh di sepanjang jalur maritim Laut Merah yang kian bergejolak.Dengan menggandeng Somaliland, Israel mendapatkan mitra strategis non-Arab di Afrika Timur yang memiliki akses langsung ke Pelabuhan Berbera.Bagi Somaliland, ini adalah kemenangan diplomatik terbesar sejak 1991. Pengakuan ini adalah "oksigen" bagi ekonomi mereka yang selama ini terisolasi dari bantuan keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.Namun, harga yang harus dibayar adalah konfrontasi terbuka dengan Somalia yang menyebut tindakan ini sebagai "invasi tanpa senjata."Respons keras Somalia segera mendapat dukungan dari Uni Eropa (UE) dan Uni Afrika. Uni Eropa secara tegas menyatakan dukungannya terhadap integritas wilayah Republik Federal Somalia.Mengapa UE begitu gigih? Jawabannya terletak pada kekhawatiran akan stabilitas regional. Bagi komunitas internasional, mengakui kemerdekaan Somaliland berarti membuka kotak pandora separatisme di seluruh benua Afrika.Jika satu wilayah diizinkan memisahkan diri berdasarkan stabilitas internal, maka puluhan gerakan separatis lain di Afrika mungkin akan menuntut hak yang sama, berisiko meruntuhkan tatanan perbatasan kolonial yang selama ini dijaga demi mencegah perang saudara massal.Dinamika ini menciptakan dilema keamanan yang akut. Di satu sisi, Somaliland adalah benteng melawan terorisme; mereka berhasil menjaga wilayahnya bersih dari pengaruh Al-Shabaab, kontras dengan kondisi di Somalia Selatan.Namun di sisi lain, pengakuan sepihak Israel berisiko melemahkan posisi pemerintah pusat di Mogadishu dalam perjuangan mereka melawan ekstremisme.Ketegangan ini juga membelah pengaruh kekuatan besar di kawasan. Ketika Israel dan Ethiopia mulai merapat ke arah Hargeisa, kekuatan lain seperti Turkiye, Mesir, dan Qatar cenderung tetap berada di belakang Somalia.Tanduk Afrika kini bukan lagi sekadar wilayah konflik lokal, melainkan papan catur baru bagi kekuatan menengah dunia.Pada akhirnya, pengakuan Israel atas Somaliland adalah ujian bagi tatanan internasional. Dunia dipaksa memilih antara menghargai fakta stabilitas de facto yang telah dibangun Somaliland secara mandiri, atau mempertahankan prinsip de jure kedaulatan Somalia demi perdamaian yang lebih luas.Krisis ini mengingatkan kita bahwa kedaulatan bangsa bukan sekadar urusan garis di atas peta, melainkan hasil dari negosiasi rumit antara pengakuan internasional, stabilitas domestik, dan kepentingan geopolitik.Di tengah ketidakpastian ini, satu hal yang pasti: Tanduk Afrika kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya, di mana satu langkah diplomasi bisa mengubah peta keamanan global di jalur perdagangan paling vital di dunia.
(prf/ega)
Diplomasi Laut Merah: Krisis Baru Pengakuan Israel atas Somaliland
2026-01-12 06:19:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:14
| 2026-01-12 06:02
| 2026-01-12 04:43
| 2026-01-12 03:58










































