BANDUNG BARAT, - Hasil uji laboratorium Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan bahwa ikan hasil budidaya keramba jaring apung (KJA) di Waduk Cirata dan Saguling masih aman dikonsumsi.Meski pencemaran logam berat merkuri terkonfirmasi terjadi pada air dan sedimen, kandungan tersebut tidak ditemukan pada tubuh ikan.Kepastian tersebut sekaligus menjawab polemik setelah pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menyebut ikan budidaya dari Cirata mengandung merkuri tinggi dan tidak layak konsumsi."Betul hasil uji laboratorium sudah keluar. Kami, perwakilan pemerintah daerah di area waduk, yakni Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta, diundang KKP untuk mengetahui hasilnya. Intinya, berdasarkan paparan KKP, kalau ikan tak terpapar merkuri, masih layak konsumsi," kata Kepala Bidang Perikanan pada Dispernakan Bandung Barat, Dindin Rustandi, saat dikonfirmasi, Kamis .Baca juga: Ribuan Kosmetik di Sidrap Disita, Diduga Mengandung Merkuri, di Antaranya Impor dari ThailandPengambilan sampel dilakukan pada Jumat, 27 Juni 2025, di lima titik: empat titik di Waduk Saguling dan satu titik di Cirata.Sampel mencakup air permukaan, sedimen dasar waduk, serta ikan hasil budidaya."Memang kalau hasil sampel air dan sedimentasi menunjukkan adanya pencemaran logam berat, tetapi untuk ikan itu tak tercemar," ujar Dindin.Waduk Cirata dan Saguling selama ini menjadi dua sentra produksi ikan air tawar terbesar di Jawa Barat.Berdasarkan sensus KJA 2019, terdapat 93.641 petak KJA di Cirata dan 35.482 petak di Saguling.Namun, peningkatan aktivitas rumah tangga dan industri di hulu Sungai Citarum membuat pencemaran tak terhindarkan dalam beberapa tahun terakhir.Baca juga: Pencemaran Merkuri Ancam Rantai Ekologi, Air dan Ikan di Waduk Cirata-Saguling Diperiksa"Memang harus ada upaya komprehensif untuk menuntaskan pencemaran agar kualitas air lebih baik lagi. Tak bisa sektor perikanan saja, perlu ada dari lingkungan hidup serta instansi lain," tutur Dindin.Dari sisi pelaku usaha, pernyataan menteri dinilai menambah tekanan bagi pembudidaya KJA.Asep Sulaeman, anggota Masyarakat Peduli Cirata (MPC), berharap pemerintah memberi solusi konkret, bukan sekadar pernyataan yang memicu keraguan pasar."Kami sudah tahu sejak lama kondisi air di Cirata memang tercemar. Ada penelitian dari universitas, bahkan kami yang tiap hari di lapangan bisa lihat dari tampilan airnya. Tapi, yang kami butuhkan sekarang bukan cuma statement, melainkan solusi nyata dari pemerintah,” kata Asep.Menurut dia, pernyataan soal merkuri tanpa upaya penanganan dapat berdampak luas terhadap ribuan warga yang menggantungkan hidup dari produksi ikan di Cirata dan Saguling."Jangan sampai kami jadi korban. Ikan kami tidak laku karena dianggap berbahaya, tapi sumber pencemaran seperti TPA Sarimukti dibiarkan. Air lindi dari sana jelas mengalir ke Cirata, tetapi mana penindakannya?” ujarnya.Asep juga menilai program revitalisasi Citarum belum menunjukkan hasil signifikan.Kendati demikian, ia mendukung langkah Menteri KKP dan Gubernur Jawa Barat apabila penataan perairan dilakukan secara menyeluruh dan konsisten."Saya sudah puluhan tahun jadi petani KJA sejak tahun 90-an. Produksi ikan terus menurun seiring buruknya kualitas air. Kalau pemerintah mau menata ulang dan benar-benar memulihkan air, kami akan dukung," tuturnya.
(prf/ega)
Ikan KJA di Waduk Saguling dan Cirata Layak Konsumsi, Hasil Uji Lab Tak Ada Merkuri
2026-01-12 05:32:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:07
| 2026-01-12 04:50
| 2026-01-12 04:15










































