MEDAN, - Arman Zebua nyaris tertanam lumpur dan terseret arus sungai saat berupaya lolos dari bencana yang melanda kampungnya.Tekadnya yang kuat untuk menyelamatkan keluarga dan warga dari jebakan longsor disertai banjir bandang, membuatnya mengambil langkah-langkah ekstrem. Ia bersama lima puluh dua warga yang sempat bertahan hidup di hutan akhirnya dapat mengevakuasi diri dengan kondisi yang mencekam.Kala itu, Arman dan warga lainnya masih tenang. Lantaran mereka sudah biasa mendapati hujan deras di penghujung tahun.Kecemasan mulai muncul ketika kabar longsor terjadi di beberapa titik perbukitan sampai ke telinga warga setempat. Pria berusia 25 tahun ini lekas mengambil langkah aman. Dia mengajak keluarganya untuk mengungsi ke gereja yang berada di dataran lebih tinggi dari pemukiman warga.Baca juga: Daerah Terisolasi Pascabanjir di Tapanuli Mulai Berkurang, Tersisa 6 KecamatanDia beranjak bersama ibu, abang, kakak ipar, dua keponakan, dan adiknya. Beberapa pakaian, peralatan bayi serta perlengkapan tidur dibawa.Tak hanya keluarga Arman, warga setempat lainnya turut melakukan hal serupa. Mereka mulai mencari tempat aman jika longsor menimpa kampung.Selama tiga hari mereka beristirahat di gereja. Pagi hingga sore, warga masih tetap kembali ke rumah untuk masak hingga mandi.Selasa pagi, hujan masih tak kunjung berhenti. Sungai yang dekat pemukiman warga mulai meluap. Hitungan menit, air mulai menggenangi rumah warga.Jembatan yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari kampung tak lagi dapat diakses.Warga terjebak dalam gereja. Di tengah hujan lebat, Arman mulai merasa hal buruk akan terjadi.Tiba-tiba, tanah dari arah bukit menimpa bagian belakang gereja. Warga tersentak, panik. Anak-anak menangis.Baca juga: Update Pencarian Korban Banjir Tapanuli Tengah: 45 Masih Hilang, Banyak Jalan Desa PutusSuara teriakan silih berganti. Debit air kian cepat meninggi hingga menggenangi gereja sekitar 90 cm."Udah pasrah kian kami. Di depan arus sungai kencang, banjir lagi. Di belakang longsor. Ya satu-satunya jalan lari ke hutan," kata Arman kepada Kompas.com melalui saluran telepon pada Rabu .Arman tak ingin menyerah begitu saja. Dia tak ingin melihat ibunya yang berumur 54 tahun serta keluarganya meninggal. Dicarinya cara untuk melintasi hutan tanpa terkena longsor.Arman menuntun di depan. Warga yang lain mengikuti. Ia mengaktifkan instingnya. Dengan telapak kaki, diperiksanya tanah yang dipijak mulai lembek atau tidak. Lalu dilihatnya ke bagian atas apakah ada jejak longsor.Baca juga: Tiga Pekan Pascabanjir di Tapanuli Tengah, Kayu dan Lumpur Masih Menumpuk di Sibuluan NauliDi perjalanan, warga sempat mengeluh kepadanya karena harus melewati longsor di perbukitan. Namun, Arman tetap bersih keras bahwa lokasi tersebut masih belum aman.Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya Arman dan warga lainnya mendapati lokasi perbukitan yang datar. Di sana lah seluruh warga berdiam diri. Tempat berlindung seadanya dibangun dengan seng, spanduk, dan kayu seadanya."Itu satu harian kami gak makan. Minum ya dari air hujan itu ajalah lah. Kami kedinginan semua," ucap Arman.
(prf/ega)
Kisah Arman Zebua, Selamatkan 52 Nyawa dari Jebakan Longsor-Banjir di Hutan Tapanuli Tengah
2026-01-12 03:58:14
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:40
| 2026-01-12 02:08
| 2026-01-12 01:58
| 2026-01-12 01:39










































