Nggak Punya Waktu ke Kampus? Tenang, Kampus yang Datang ke Kamu!

2026-01-11 04:14:55
Nggak Punya Waktu ke Kampus? Tenang, Kampus yang Datang ke Kamu!
Jakarta Nggak semua orang punya jalan yang sama buat belajar. Ada yang bisa langsung kuliah setelah lulus SMA, ada juga yang harus menunda karena sibuk bekerja, karena biaya, atau karena jarak yang terlalu jauh dari kampus. Di banyak daerah, sekolah bahkan masih jadi suatu privilege. Bukan karena mereka nggak mau, tapi karena aksesnya belum sampai. Di kota besar pun ceritanya nggak jauh beda. Ada yang ingin lanjut kuliah tapi waktu sudah habis di kantor, ada ibu rumah tangga yang diam-diam masih pengen menyelesaikan pendidikannya tapi masih harus mengurus anak atau orang tuanya, dan bahkan ada juga teman-teman difabel yang sering kali masih dihadapkan pada lingkungan belajar yang belum ramah kebutuhan mereka. Buat mereka, belajar itu bukan cuma tentang ruang kelas tapi tentang kesempatan yang benar-benar terbuka buat siapa pun.Coba bayangin. Ada anak di pulau kecil yang harus naik kapal dua jam cuma buat sampai ke sekolah menengah. Bagaimana mau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi? Itu hanya mimpi bagi mereka. Ada difabel yang ingin kuliah tapi fasilitas kampusnya belum ramah kebutuhan mereka. Ada juga pekerja yang setiap kali lihat pengumuman wisuda di media sosial cuma bisa bilang dalam hati, “mungkin suatu saat nanti, kalau sempat dan punya dana untuk kuliah.” Padahal, pendidikan seharusnya bukan soal siapa yang bisa hadir di kelas pukul delapan pagi, tapi soal siapa yang punya tekad buat belajar. Sayangnya, sistem pendidikan kita masih sering mengandalkan satu bentuk: datang, duduk, dengar. Padahal hidup orang beda-beda nggak semua bisa punya waktu, tenaga, atau tempat yang sama untuk belajar.Dan di tengah kenyataan itulah, Universitas Terbuka  (UT) hadir sebagai solusi. UT datang bukan cuma buat mereka yang ingin kuliah dari jarak jauh, tapi buat siapa pun yang masih punya semangat belajar meski hidup nggak selalu kasih waktu dan ruang. Lewat sistem pendidikan jarak jauh (kuliah online) yang fleksibel, mahasiswa bisa belajar dari mana aja dan kapan aja—tanpa harus ninggalin pekerjaan, keluarga, atau kampung halaman. Nggak cuma itu, biaya kuliahnya juga ramah kantong, tapi kualitasnya tetap berstandar tinggi dan diakui dunia. UT jadi bukti kalau pendidikan nggak harus mahal dan nggak harus datang ke kampus setiap hari untuk tetap bermakna. Karena di sini, kesempatan belajar benar-benar dibuka selebar-lebarnya, buat siapa pun yang nggak mau berhenti tumbuh.AdvertisementGenerasi sekarang hidup di dunia yang serba cepat. Kita bisa kerja jarak jauh, belanja dari ponsel, bahkan ngobrol lintas negara dalam hitungan detik. Tapi anehnya, masih banyak yang harus berhenti belajar karena “nggak bisa hadir di kampus.” Padahal teknologi sudah memungkinkan semuanya jadi lebih terbuka. Pendidikan seharusnya juga bisa mengikuti ritme kehidupan orang, bukan memaksa orang menyesuaikan diri dengan sistem. Karena buat banyak orang, belajar itu bukan tentang waktu luang tapi tentang perjuangan menyempatkan diri di sela hidup yang sibuk.Pelan-pelan, dunia pendidikan mulai berubah. Kita mulai sadar kalau cara belajar nggak harus selalu duduk di kelas, dan ilmu bisa datang lewat layar kecil di tangan. Banyak yang akhirnya menemukan cara baru buat tetap belajar di tengah hidup yang nggak pernah berhenti. Di antara semua perubahan itu, muncul satu ruang belajar yang benar-benar ngerti kehidupan orang-orang yang nggak bisa hadir setiap hari di kampus. Tempat di mana belajar bisa disesuaikan sama ritme hidup, bukan sebaliknya. Universitas Terbuka (UT) jadi pionir kampus yang dari awal percaya bahwa setiap orang berhak punya kesempatan yang sama buat kuliah, apa pun kondisinya.UT nggak cuma sekadar menyediakan kelas online, tapi membangun sistem yang bikin mahasiswa bisa belajar di mana pun dan kapan pun tanpa harus ngerasa tertinggal. Semua bisa jalan beriringan: kerja, keluarga, mimpi, dan kuliah.Inklusif bukan cuma tentang membuka pintu, tapi memastikan nggak ada yang tertinggal di luar. Dan itulah kenapa model pendidikan terbuka jadi penting: karena setiap orang punya cara hidup, ritme, dan tantangan yang berbeda. UT membuktikan, kuliah itu nggak harus soal datang ke kampus tapi soal datang pada kesempatan untuk berubah. Karena pada akhirnya, pendidikan sejati bukan yang paling bergengsi, tapi yang paling bisa dijangkau. (*)


(prf/ega)