Jakarta Hari itu hati Faisal begitu gelisah. Masifnya pemberitaan soal banjir Sumatra membuat pikirannya kusut. Setiap saat dia terus menghubungi istri dan anaknya. Memastikan kondisi cuaca dan ketinggian genangan air.Di ujung telepon, belum ada kabar gembira disampaikan sang istri. Terkecuali, hujan yang belum mereda dan ketinggian air terus meningkat. Pikirnya kala itu, hanya ingin segera pulang ke rumah. Ada di tengah-tengah keluarga karena keadaan sedang tidak baik-baik saja.Notaris asal Aceh itu sedang menghadiri kongres profesi di Jakarta saat kampungnya mulai kebanjiran. Sementara istri, anak dan orang tuanya ada di rumah mereka di Kota Langsa. Itu sebabnya, dia cemas bukan main. Takut keadaan makin parah dan perjalanan pulang menjadi tak mudah.AdvertisementDi pagi buta , Rabu , Faisal kembali dihubungi istrinya. Mengabarkan air sudah mencapai teras rumah mereka. Kondisi yang tak pernah terjadi sebelumnya sekalipun curah hujan tinggi.“Padahal di daerah saya seyogiyanya dan kebiasaannya, belum ada sejarahnya air itu sampai ke rumah bahkan ke wilayah atau kawasan rumah saya, lingkungan itu," ceritra Faisal saat berbincang dengan Selasa .Mendapat kabar itu, hatinya makin berkecamuk. Dia memutuskan harus segera kembali hari itu, apa pun yang terjadi. Meski sadar kondisinya sudah genting. Tetapi keluarga sangat membutuhkan kehadirannya. Sembari terus memantau keluarga, dia berburu tiket pesawat ke Medan sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh. Syukurnya, dia mendapatkan penerbangan malam itu.
(prf/ega)
Banjir Sumatra dan Perjuangan Mencari Keluarga: 4 Hari Jalan Kaki Puluhan Kilometer, Lewati Gunung hingga Hutan
2026-01-11 03:38:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:44
| 2026-01-11 01:53
| 2026-01-11 01:47










































