Sejak Kapan Tahun Baru Diperingati pada 1 Januari? Begini Sejarahnya

2026-02-03 01:07:50
Sejak Kapan Tahun Baru Diperingati pada 1 Januari? Begini Sejarahnya
- Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita merayakan pergantian tahun tepat pada tanggal 1 Januari?Jika kita melihat kalender, sebenarnya tidak ada fenomena alam yang luar biasa mencolok pada tanggal tersebut.Matahari tidak berada di titik balik tertentu bagi seluruh penduduk bumi, dan musim pun berbeda-beda di tiap belahan dunia.Baca juga: 75 Ucapan Selamat Tahun Baru 2026 dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, Penuh Doa serta Harapan dan HarapanPenetapan 1 Januari sebagai awal tahun ternyata bukan hasil dari hukum alam, melainkan produk panjang dari politik, agama, dan koreksi matematika selama ribuan tahun.Berikut adalah sejarah panjang di balik penetapan 1 Januari sebagai awal tahun baru yang dirangkum dari berbagai sumber.Dalam catatan sejarah, perayaan tahun baru termasuk tradisi yang sangat tua dan tidak selalu mengikuti kalender yang dipakai sekarang.Dikutip dari Britannica, rekaman paling awal tentang festival tahun baru berasal dari sekitar 2000 SM di Mesopotamia.Ketika itu, Babylonia merayakan Akitu pada bulan baru setelah ekuinoks vernal (sekitar awal musim semi), sementara Assyria menandai tahun baru dekat ekuinoks musim gugur.Bangsa lain juga punya patokan yang berbeda untuk awal tahun.Orang Mesir dan Fenisia, misalnya, mengaitkan awal tahun dengan ekuinoks musim gugur, sementara Persia kuno memulainya pada ekuinoks vernal.Perbedaan ini karena kalender yang dipakai tiap wilayah tidak sama. Ada yang berbasis matahari, bulan, bahkan gabungan keduanya.Sistem kalender yang berbeda-beda ini membuat awal tahun dirayakan tidak serempak oleh seluruh dunia.Baca juga: Kenapa Orang Tetap Membuat Resolusi Tahun Baru Padahal Sering Gagal?Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun dilakukan oleh Julius Caesar.Namun, sebelum itu terjadi, sebenarnya bangsa Romawi Kuno merayakan tahun baru pada 1 Maret.Dulunya, kalender Romawi Kuno hanya terdiri dari 10 bulan yang dimulai pada bulan Maret hingga Desember.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-03 00:58