Bukan Ayah, Ibulah yang Menentukan Pembelian Rumah

2026-01-12 06:50:54
Bukan Ayah, Ibulah yang Menentukan Pembelian Rumah
JAKARTA, - Keputusan untuk membeli atau menyewa sebuah rumah sering kali dipasarkan sebagai hasil diskusi logis yang melibatkan kalkulasi finansial antara sepasang suami-istri.Namun, jika kita menelaah lebih dalam ke dalam algoritma pencarian digital dan dinamika meja makan keluarga Indonesia, terdapat satu narasi yang konsisten muncul ke permukaan: ibu adalah pemegang otoritas penyaringan informasi yang paling krusial.Data pasar properti nasional menunjukkan pergeseran paradigma di mana sosok ibu bukan lagi sekadar pendamping dalam memilih rumah, melainkan figur sentral yang memvalidasi kualitas hidup jangka panjang sebuah keluarga.Baca juga: Ribuan Rumah di Sumbar Selamat Berkat Sabo Dam, Apa Itu?Fenomena ini menempatkan ibu dalam peran baru yang secara simbolis disebut sebagai Chief Housing Officer.Berdasarkan analisis data dari Rumah123 sepanjang tahun 2025, keterlibatan perempuan dalam proses pencarian hunian telah melampaui angka psikologis yang signifikan, yakni mencapai 52,4 persen dibandingkan pria yang berada di angka 47,6 persen.Angka ini memberikan gambaran analitis yang tajam bahwa proses "kurasi" hunian dimulai dari tangan perempuan.Ibu cenderung memiliki ketelitian yang lebih tinggi dalam menilai hal-hal mikro yang sering kali luput dari pandangan maskulin yang biasanya lebih terpaku pada valuasi aset, skema cicilan, atau legalitas tanah.Pergeseran ini membawa dampak langsung pada bagaimana pasar properti Indonesia bergerak.Baca juga: Bantuan Rp 60 Juta untuk 1 Rumah Rusak, Plus Perabot Rp 3 JutaBagi seorang ibu, rumah dipilih bukan hanya sekadar angka di atas sertifikat atau luas bangunan di atas kertas, melainkan sebuah ruang hidup yang harus mendukung ekosistem tumbuh kembang anak dan harmoni keseharian.Data Rumah123 mencatat sebuah lonjakan yang sangat spesifik sepanjang 2025: pencarian dengan kata kunci terkait "keamanan lingkungan" meledak hingga lebih dari 360.000 pencarian.Lebih dari itu, variabel "kedekatan dengan sekolah" tumbuh masif sebesar 34,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.Di sisi lain, variabel fasilitas kesehatan dan kenyamanan lingkungan mencatatkan lebih dari 58.000 pencarian.Baca juga: Rumah Subsidi Harus Berkualitas, Bos Tapera: Kalau Tidak, DzalimAnalisis ini menunjukkan bahwa ketika ibu memegang kendali pencarian, preferensi pasar bergeser dari sekadar "lokasi strategis" menjadi "lokasi yang mendukung kualitas hidup".Jika ayah sering kali melihat rumah sebagai investasi jangka panjang yang bersifat statis, ibu memandang rumah sebagai entitas dinamis.Hal ini tercermin dari perhatian mereka terhadap detail fungsional, seperti tata ruang yang mendukung aktivitas memasak sambil mengawasi anak, sirkulasi udara yang menjamin kesehatan penghuni, hingga ketersediaan pencahayaan alami untuk penghematan energi.


(prf/ega)