Dari MULO ke SMPN 2, Jejak Pendidikan Kolonial yang Masih Hidup di Bogor

2026-01-11 09:30:04
Dari MULO ke SMPN 2, Jejak Pendidikan Kolonial yang Masih Hidup di Bogor
BOGOR, – Dari luar, bangunan SMP Negeri 2 Bogor tampak seperti rumah besar peninggalan kolonial.Atap genteng merah kecokelatannya membentang panjang, berdiri di atas dinding tua bercat putih dan hijau.Jendela-jendela kayu besar dengan engsel kunonya tetap terpasang, terbuka lebar membiarkan cahaya dan angin masuk ke ruang-ruang kelas.Baca juga: Tapak Tilas SMPN 2 Bogor, Sekolah Peninggalan Kolonial yang Jadi Cagar BudayaKesederhanaannya terlihat jauh dari sekolah modern, namun justru suasana inilah yang membuatnya berbeda, fragmen masa lalu yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor.Hafizh Wahyu Darmawan Suasana kelas SMPN 2 Bogor Menjelang siang, di teras panjang berlantai tegel abu-abu, para siswa mondar-mandir dari satu kelas ke kelas lainnya. Pintu kayu tua berwarna hijau gelap berderit pelan setiap kali dibuka.Dari halaman tengah, bangunan kelas yang berderet tampak seperti koridor sejarah yang tak berubah sejak era kolonial.Plafon tinggi dan ventilasi atas berornamen klasik tetap terjaga, menjadi bukti usia bangunan yang sudah lebih dari seabad.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaMemasuki ruang guru, nuansa masa lalu terasa semakin kuat.Plafon tinggi, kabel-kabel listrik yang ditempel rapi di dinding tua, hingga lemari arsip besi yang tampak solid meski sudah berumur, menambah kesan antik ruangan.Globe, pajangan karya siswa, serta tumpukan dokumen di atas meja membuat ruang tersebut terasa hidup.Ruang-ruang itu dahulu digunakan para murid MULO, sekolah menengah zaman Hindia Belanda, dan kini menjadi tempat belajar generasi muda Bogor.Bagi Rayi (14), siswa kelas VIII, pengalaman belajar di SMPN 2 terasa tidak sama dengan sekolah-sekolah lain.Rayi sudah mengetahui sejak awal bahwa sekolah yang ia masuki bukan sekolah biasa.Lingkungan bangunannya membuatnya merasa seolah sedang berada di tempat bersejarah, bukan hanya ruang belajar biasa.“Tahu sih kan ada juga guru yang suka cerita gitu kalau di sela-sela jam pelajaran gitu. Banyak juga peninggalannya yang belum diubah sampai sekarang. Dan ini juga sebagai cagar budaya yang tidak boleh diubah sama sekali,” ujarnya.Baca juga: Menapak Sejarah Menara Air Manggarai, Warisan Kolonial yang Tetap Tegak di Permukiman


(prf/ega)