- Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang-seling kini semakin populer sebagai metode untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan.Namun, temuan terbaru dari sebuah studi menunjukkan bahwa efek dari IF lebih dari sekadar menurunkan berat badan.Metode ini ternyata juga dapat memengaruhi aktivitas otak dan mikrobiota usus dengan cara yang menarik.Studi yang dipublikasikan di Frontiers in Cellular and Infection Microbiology menyelidiki perubahan yang terjadi pada 25 orang dewasa yang mengalami obesitas, yang mengikuti pola makan dengan puasa terstruktur.Hasilnya menunjukkan bahwa IF tidak hanya membawa perubahan fisik pada tubuh, tetapi juga menstimulasi perubahan dalam sistem saraf dan mikrobiota usus yang bisa membantu memperbaiki keseimbangan tubuh secara keseluruhan.Baca juga: Ed Sheeran Berhasil Menurunkan Berat Badan 14 Kg, Lebih Bugar Saat Nyanyi di PanggungDikutip dari SciTechDaily, pada akhir penelitian, peserta mengalami penurunan berat badan rata-rata sekitar 7,6 kg (sekitar 16,8 pound), yang setara dengan 7,8% penurunan berat badan mereka.Selain penurunan berat badan, ada juga penurunan signifikan pada lingkar perut, tekanan darah, kadar glukosa plasma puasa, kolesterol total, HDL, LDL, serta aktivitas beberapa enzim hati yang berkaitan dengan gangguan metabolik.Dr. Qiang Zeng, penulis utama penelitian ini dari Health Management Institute di Beijing, mengatakan bahwa perubahan ini menunjukkan bahwa IF dapat membantu mengatasi komorbiditas yang terkait dengan obesitas, seperti hipertensi, hiperlipidemia, dan disfungsi hati.Baca juga: Berkat IF Lyta Karina Sukses Turunkan Berat Badan 27 Kg Usai Melahirkan shutterstock Ilustrasi diet intermittent fasting. Penelitian terbaru mengungkap bahwa intermittent fasting tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga mengubah aktivitas otak dan komposisi mikrobiota usus untuk kesehatan yang lebih baik.Selain perubahan fisik, para peneliti juga menemukan bahwa ada perubahan dalam mikrobiota usus dan aktivitas otak yang terhubung selama dan setelah menjalani diet intermittent fasting.Dr. Thomas Zeng, yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa tubuh kita memiliki aksis otak-usus-mikrobiota yang saling mempengaruhi satu sama lain.Penelitian ini menemukan bahwa setelah menjalani IF, bakteri usus seperti Faecalibacterium prausnitzii dan Parabacteroides distasonis meningkat, sementara jumlah Escherichia coli berkurang.Penurunan aktivitas di otak bagian yang berhubungan dengan nafsu makan dan kecanduan juga diamati, sementara peningkatan aktivitas di bagian otak yang terkait dengan perhatian, pengendalian motorik, emosi, dan pembelajaran menunjukkan adanya hubungan antara perubahan mikrobiota usus dan pola makan yang lebih baik.Dr. Xiaoning Wang, salah satu penulis studi dari Institute of Geriatrics, menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi selama puasa ini bisa membantu meningkatkan kesehatan fisik dan mental, terutama pada orang yang mengalami obesitas."Mikrobiota usus kita berperan penting dalam menghasilkan neurotransmitter dan neurotoksin yang mempengaruhi otak. Di sisi lain, otak juga mempengaruhi perilaku makan kita, sementara nutrisi dalam makanan kita mengubah komposisi mikrobiota usus," kata Wang.Baca juga: Kisah Lisa Riley Menurunkan Berat Badan 76 Kg, Mulai dengan Mengubah Kebiasaan
(prf/ega)
Bukan Hanya Menurunkan Berat Badan, Intermittent Fasting Juga Pengaruhi Otak dan Usus
2026-01-12 06:30:43
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:13
| 2026-01-12 06:22
| 2026-01-12 06:06
| 2026-01-12 05:07
| 2026-01-12 04:43










































