EKONOMI tidak pernah bekerja di ruang hampa. Ia bergerak di atas fondasi kebijakan, tetapi beroperasi di bawah langit yang semakin tidak bisa diprediksi.Tahun 2026 berdiri di persimpangan itu. Antara konsolidasi fiskal dan tekanan iklim. Antara ambisi pertumbuhan dan realitas risiko.Bagi pemerintahan baru, 2026 bukan tahun transisi. Mesin kebijakan sudah berjalan penuh. APBN dirancang dan dieksekusi sepenuhnya oleh satu rezim. Tidak ada lagi ruang penyesuaian.Dalam terminologi kebijakan publik, ini adalah tahun pembuktian kapasitas negara.Dari sisi eksternal, angin tidak bertiup ke arah Indonesia. Mitra dagang utama mengalami perlambatan. Amerika Serikat stagnan. Korea Selatan naik tipis. CHina, India, Malaysia, dan Thailand melambat.Volume ekspor sulit melonjak. Harga komoditas utama seperti CPO, batu bara, dan nikel menurun. Indeks harga ekspor berbasis komoditas melemah.Dampaknya langsung terasa pada sektor eksternal. Surplus perdagangan menipis. Rupiah tertekan. Secara year on year, rupiah melemah terhadap 84,3 persen mata uang dunia. Ini bukan hanya soal dolar. Ini refleksi posisi eksternal yang rapuh.Baca juga: Pesan dari Gen Z Bulgaria untuk PenguasaNeraca pembayaran memperkuat sinyal itu. Dalam 2 kuartal terakhir, defisit tercatat di atas 14 miliar dollar AS. Arus keluar lebih besar dari arus masuk.Cadangan devisa menurun. Pemerintah merespons dengan kebijakan devisa hasil ekspor. Porsi ditingkatkan dari 30 persen menjadi 100 persen dan ditahan selama 1 tahun.Secara aritmetika, kebijakan ini menambah pasokan devisa. Secara ekonomi politik, risikonya nyata.Dalam rezim devisa bebas, perubahan kebijakan yang mendadak sering dibaca pasar sebagai sinyal defensif. Jika ekspektasi memburuk, capital outflow justru dapat terjadi sebelum kebijakan berjalan efektif.Di dalam negeri, sektor riil menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan kredit turun tajam. Dari di atas 12 persen menjadi sekitar 7,3 persen. Kredit konsumsi hanya tumbuh 4 persen.Daya beli melemah. Kredit modal kerja tumbuh sekitar 7 persen. Dunia usaha belum melihat prospek permintaan. Kredit investasi tumbuh lebih tinggi, tetapi terkonsentrasi pada sektor berbasis sumber daya alam.Dari sisi fiskal, masalahnya bersifat struktural. Tax ratio bertahan di kisaran 9,25 persen dan diperkirakan masih di bawah 10 persen pada 2026.Ini bukan sekadar persoalan kepatuhan. Ini mencerminkan struktur ekonomi yang belum cukup dalam dan terdiversifikasi.
(prf/ega)
Outlook Ekonomi 2026: Di antara Risiko Fiskal dan Iklim
2026-01-12 03:37:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:12
| 2026-01-12 02:34
| 2026-01-12 02:20
| 2026-01-12 02:19
| 2026-01-12 01:34










































