Jobstreet Ungkap Indonesia Jadi Pusat Penipuan Lowongan Kerja di Asia

2026-01-12 05:27:39
Jobstreet Ungkap Indonesia Jadi Pusat Penipuan Lowongan Kerja di Asia
JAKARTA, - Seek, perusahaan induk Jobstreet dan Jobsdb, merilis temuan terbaru terkait meningkatnya penipuan lowongan kerja di Asia Pasifik.Indonesia menjadi pusat penipuan lowongan kerja terbesar, menyumbang 38 persen dari seluruh upaya penipuan di Asia Pasifik dan 62 persen dari total penipuan lowongan kerja di kawasan Asia.Filipina menyusul sebagai target kedua terbesar, dengan porsi 20 persen dari total upaya penipuan di Asia Pasifik.Fenomena ini terjadi di tengah sulitnya masyarakat mendapatkan pekerjaan. Modus penipuan lowongan kerja justru makin marak, terutama di bidang administrasi, manufaktur, ritel, perdagangan, dan pariwisata.Baca juga: Deepfake dan Penipuan AI Ancam Layanan Kesehatan Berbasis DigitalSeek menyampaikan temuan tersebut dalam laporan yang dirilis di Jakarta, Rabu , setelah melakukan pelacakan terhadap seluruh platform lokapasar kerja per Oktober 2025, termasuk Jobstreet dan Jobsdb.Bidang pekerjaan yang paling rentan terhadap penipuan adalah administrasi dan pendukung kantor (administration and office support). Berikutnya adalah manufaktur, transportasi, dan logistik; ritel dan produk konsumer; perdagangan dan jasa; serta perhotelan dan pariwisata.Pada bidang administrasi dan pendukung kantor, penipuan paling banyak menyasar posisi admin toko daring, admin e-dagang, dan petugas input data.Adapun pada bidang manufaktur, transportasi, dan logistik, pelaku kerap menargetkan posisi operasional gudang, seperti staf gudang.Baca juga: Penipuan Lowongan Kerja Pilot Terbongkar, Korban Rugi hingga Rp 1,3 Miliar”Bidang pekerjaan seputar administrasi dan pendukung kantor memang sangat rentan penipuan karena biasanya tidak menuntut gelar khusus atau pengalaman yang mendalam,” ujar Kepala Bidang Kepercayaan dan Keamanan Seek, Tom Rhind.Ia menambahkan, posisi tenaga penjualan juga sering digunakan sebagai umpan karena dijanjikan sebagai pekerjaan cepat dengan penghasilan berbasis komisi. Pola ini serupa dengan penipuan di sektor administrasi.Dari sistem deteksi internal Seek, 39,36 persen iklan lowongan di bidang administrasi dan pendukung kantor mengandung penipuan.Pada bidang manufaktur, transportasi, dan logistik ada 21,06 persen penipuan; ritel dan produk konsumer 12,23 persen; perdagangan dan jasa 7,98 persen; serta perhotelan dan pariwisata 5,74 persen.Baca juga: Satgas Pasti Lacak Peningkatan Penipuan Digital, Kerugian Rp 7,8 TMenurut Tom, pelaku kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat modus penipuan yang lebih canggih. Mereka sering menyamar sebagai staf Jobstreet dan menghubungi kandidat melalui pesan pendek, aplikasi pesan instan, maupun media sosial.Modus lain adalah menawarkan pekerjaan paruh waktu dengan tugas ringan seperti memberikan “like/subscribe” konten di media sosial.Pelaku biasanya memberikan komisi kecil pada awal interaksi untuk mendorong kepercayaan, lalu meminta korban melakukan deposit dana yang tidak akan dikembalikan.


(prf/ega)