Cerita Purbaya,Tiru Cara Abu Nawas buat Urai Kasus Hambatan Investasi

2026-01-13 00:10:11
Cerita Purbaya,Tiru Cara Abu Nawas buat Urai Kasus Hambatan Investasi
JAKARTA, - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim telah memiliki pengalaman panjang dalam menyelesaikan ratusan sidang terkait kasus hambatan investasi.Purbaya menyamakan dirinya dengan salah satu tokoh dalam cerita Kisah 1001 Malam bernama Abu Nawas. Tokoh tersebut memiliki cara yang tidak biasa dalam menyelesaikan berbagai kasus.Bahkan Bendahara Negara itu mengaku meniru salah satu cara cerdik Abu Nawas dalam mengidentifikasi pelaku pencurian."Kalau ada yang ragu, Purbaya emang tahu hukum apa? Emang dia bisa jadi hakim? Saya udah menyidangkan mungkin 600 sidang terus-terusan selama itu selama tiga tahun itu. Saya kemampuan hakimnya sudah setingkat Abu Nawas," cerita Purbaya saat Rapimnas Kadin Indonesia di Jakarta, Senin .Baca juga: Anggaran Bencana Sumatera Dipastikan Aman, Purbaya Siap Kucurkan Tambahan DanaPurbaya kemudian menuturkan kisah Abu Nawas yang menggunakan minyak pada seekor kuda untuk mengetahui siapa pelaku kecurangan.Orang yang bersalah tak berani menyentuh kuda itu sehingga tangannya tetap bersih, sementara yang jujur tangannya basah karena terkena minyak.Demikian dengan yang dilakukan Purbaya ketika menangani 600 kasus hambatan investasi saat masih bekerja menjadi Wakil Ketua Satgas Debottlenecking (Pokja IV) di Kementerian Koordinator Bidang Maritim selama 2016-2019."Kalau saya enggak gitu, saya enggak kasih minyak. Tapi dengan berjalannya waktu, setiap saya sidang kan salaman tuh, mungkin 20 sidang udah tahu, siapa yang bersalah tangannya dingin, yang gak bersalah tangan hangat," jelasnya.Baca juga: Purbaya Ancam Pembekuan Bea Cukai, Setahun Berbenah atau Digantikan SGS Menurut dia, insting tersebut terbentuk karena telah berpengalaman memimpin ratusan sidang saat bertugas dalam tim bottlenecking tersebut.Terhitung Purbaya dan tim telah menyelesaikan 193 kasus investasi senilai Rp 894 triliun."Jadi saya sudah setingkat Abu Nawas, kata Purbaya sambil berkelakar.Berbekal pengalaman tersebut, Purbaya mengusulkan ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartartou untuk membentuk tiga task force untuk menyelesaikan hambatan investasi.Pada 22 Oktober lalu, pemerintah telah meluncurkan tiga taskforce baru yang salah satunya bertugas khusus menyelesaikan debottlenecking"Di situ para pelaku bisnis kalau ada hambatan di bisnis bisa lapor dan kami akan sidangkan seminggu kemudian. Saya sudah memutuskan mengalokasikan waktu satu hari penuh untuk memimpin sidang di bottlenecking," tuturnya.Baca juga: Purbaya Sebut Siap Jika Diminta Kucurkan Dana Darurat untuk Banjir dan Longsor di SumateraAdapun tiga taskforce itu terdiri dari Pokja I yang bertugas untuk melaksanakan percepatan realisasi dan pelaksanaan anggaran dalam program strategis pemerintah.Kemudian Pokja II bertugas untuk implementasi program dan penyelesaian kendala atau debottlenecking (penyelesaian hambatan).Sementara itu, Pokja III bertugas dalam hal percepatan penyelesaian regulasi untuk dasar pelaksanaan program dan penegakan hukum.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-13 09:33