Cerita Sumiati Bisa Berangkat Umrah Berkat Jualan Jamu Gendong 30 Tahun

2026-01-14 08:22:50
Cerita Sumiati Bisa Berangkat Umrah Berkat Jualan Jamu Gendong 30 Tahun
Seorang penjual jamu tradisional di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Sumiati (65) masih semangat berkeliling menjual jamu racikannya. Sumiati sudah berjualan jamu keliling sejak tahun 1995."Dari tahun 1995, keliling dari tarikan Rp 50, anak-anakku masih kecil," kata Sumiati saat ditemui di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (22/11/2025).Sumiati meracik rempah-rempahan untuk jamu yang dijualnya secara manual dengan parutan bukan blender. Dia menjual berbagai macam jenis jamu."Kunir asem, ini temulawak masih utuh soalnya biasanya ada yang minum, ini kosong, kunir asem, kunyit tawar, temulawak, beras kencur, pahitan, sirih, rebusan kulit manggis sama daun sirsak. Komplit," ujarnya.Sumiati senang pelanggan jamunya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Dia bersyukur hasil ketekunan jualan jamu keliling ini bisa mengantarkannya untuk umrah tahun lalu."Tapi sekarang udah tua, makin ke sini langganan makin banyak. Tapi kan aku udah tua, tapi alhamdulilah aku udah bisa umrah. Tahun kemarin itu habis lebaran," ujar Sumiati warga asal Boyolali, Jata Tengah tersebut."Alhamdulilah itu kan kita pengen, biarpun aku sebatang kara di Boyolali nggak ada yang antar, nggak ada siapa-siapa, aku niat ku pengen ke sana gitu. Kan gitu kan, kalau ada niat Allah melindungi," tambahnya.Selain jualan keliling, Sumiati juga mangkal di kawasan NTMC Polri dan di belakang salah satu bank di daerah Pancoran. Dia mengatakan waktunya lebih banyak dihabiskan untuk jualan keliling dibanding mangkal."Aku yang jelas ngetemnya di KKB, Bank Bukopin itu dari jam 8.00 WIB sampai jam 9.30 WIB. Kedua di KAO, sebelah Polantas (NTMC Polri) paling setengah jam, sejam. Istilahnya aku nyampe situ 10.30 WIB ntar 11.30 WIB aku pulang, kan udah habis. Banyakan keliling. Tapi kan ini kalau hari-hari biasa bukan segini doang, di dalam gerobak, makanya di situ siang-siang nggak apa-apa," tuturnya.Sumiati mematok harga jamunya mulai dari Rp 5 ribu untuk gelas dan Rp 10 ribu untuk di botol. Namun dia juga tak segan menurunkan harga untuk pembeli yang hanya memiliki uang kurang dari Rp 5 ribu."Minimal Rp 5 ribu rasa apa aja, kalau botol Rp 10 ribu. Tapi kalau orang-orang yang nggak ada duit ya Rp 3 ribu ya nggak apa-apa, kan kita namanya orang ya, tolong menolong," ujarnya.Lebih lanjut, Sumiati mengatakan baru dua bulan berjualan keliling menggunakan gerobak. Dia mengatakan ia sebelumnya berjualan jamu gendong keliling."Digendong, makanya aku lewat sini karena ada gerobak. Digendong biasanya, ini (gerobak) baru 2 bulan ini," ujarnya.Lihat juga Video: Erin Berangkat Umrah Seusai Sepakat Cerai dengan Andre Taulany[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 07:34