KALEIDOSKOP 2025: Rojali dan Rohana, "Hidupkan" Mal tapi Menguji Daya Beli

2026-02-02 02:12:19
KALEIDOSKOP 2025: Rojali dan Rohana,
JAKARTA, - Istilah rojali dan rohana semula terdengar seperti nama orang.Namun demikian, sepanjang 2025, dua akronim itu menjadi bahasa baru di ruang publik, untuk menggambarkan perilaku konsumen yang ramai terlihat di pusat perbelanjaan: mal penuh, tetapi transaksi tidak selalu sebanding.Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli dan rohana merujuk pada rombongan hanya nanya, maksudnya pengunjung yang aktif bertanya harga, diskon, atau fitur, tetapi tidak berujung pembelian.Baca juga: Media Sosial Ubah Pola Belanja, Mal DKI Siapkan Strategi Rojali 2.0/Lidia Pratama Febrian Fenomena Rojali Bukan karena Malas Beli, Pengunjung Nilai Mal Tempat Aman dan NyamanDalam berbagai unggahan dan percakapan harian, rojali dan rohana menjadi cara cepat untuk merangkum satu pemandangan yang berulang: orang datang bergerombol, berjalan-jalan, menghabiskan waktu di area publik, bahkan membuat konten, tetapi pulang dengan tangan kosong.Di titik itulah fenomena ini menarik. Keduanya berada di persimpangan antara hiburan murah, pergeseran pola belanja, dan tekanan ekonomi rumah tangga.Ada yang membaca rojali dan rohana sebagai candaan sosial, tetapi ada pula yang memaknainya sebagai sinyal yang lebih serius, yakni tentang ketahanan daya beli masyarakat, biaya hidup perkotaan, dan kualitas pekerjaan.Ketika istilah itu makin sering dipakai, respons pemerintah pun muncul. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai istilah tersebut tidak semestinya ditertawakan.Baca juga: Rojali, Rohana, Rohalus: Daya Beli Melemah atau Gaya Belanja Berubah?“Saya terus terang tidak terlalu gembira dengan istilah itu. Menurut pendapat saya, istilah itu jangan dijadikan sebagai sebuah joke atau lelucon. Itu adalah sebuah lecutan bagi kita bahwa memang masih banyak yang harus kita perjuangkan, masih banyak yang harus kita benahi," kata dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-02 08:57