Cerita Ibu di Magetan, Bangga Lihat Anak Difabel Berkarya

2026-01-11 22:19:20
Cerita Ibu di Magetan, Bangga Lihat Anak Difabel Berkarya
MAGETAN, – Pendopo Surya Graha Magetan, Jawa Timur, siang itu tidak hanya dipenuhi tawa anak-anak.Di sudut-sudut ruangan, mata para ibu tampak berkaca-kaca. Mereka menangis bukan karena sedih, melainkan karena bangga.Anak-anak yang selama ini sering dianggap “berbeda”, hari itu berdiri di atas panggung—menari, menggambar dan menunjukkan karya.Bagi Fara , seorang ibu dari anak difabel, momen itu terasa seperti hadiah panjang dari proses yang tidak mudah.Ia menyaksikan Jasmin (8) anaknya yang memiliki keterbatasan pada kecerdasan tampil di depan banyak orang.Baca juga: Ketika Penyintas Disabilitas Psikososial di Manggarai Timur Terima Kado Natal...Meski masih tampak malu-malu, putranya berhasil menyelesaiakan tari ikan bersama dengan empat temannya di hadapan bupati Magetan. Namun justru di situlah kebahagiaannya tumbuh.“Harapan aku ke depannya itu cukup satu, dia bisa mandiri membuat dirinya sendiri,” ujarnya saat ditemui di sela sela kegiatan, Senin .Fara tidak pernah memimpikan hal yang muluk. Ia tidak menuntut anaknya menjadi juara atau terkenal. Ia hanya ingin anaknya merasa aman hidup di tengah orang lain.“Saya ingin dia bisa bersosialisasi dengan nyaman. Nyaman dengan orang sekitar, nggak malu, nggak takut,” katanya.Baginya, kegiatan seni dan pertemuan publik seperti peringatan Hari Disabilitas Internasional di Pendopo Surya Graha bukan sekadar acara seremonial. Kegiatan itu menjadi ruang belajar bagi anak dan juga bagi masyarakat.“Lewat kegiatan seperti ini, kita ngajarin ke dia kalau orang itu banyak macamnya. Dia bisa ketemu banyak orang, bisa komunikasi,” tutur Fara.Ia berharap, perjumpaan-perjumpaan semacam itu membuat anaknya tumbuh tanpa rasa rendah diri.Baca juga: Stasiun Cikini Jadi Stasiun KRL Pertama dengan Lift Tangga Lansia dan Disabilitas“Harapannya dia bisa diterima masyarakat, diterima orang. Di situ dia bisa berkembang,” lanjutnya.KOMPAS.COM/SUKOCO Penampilan Jesica bersama dengan 4 rekannya saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di Pendopo Surya Graha Kabupaten Magetan, Senin . Mereka memamerkan kepiawaiannya menari, melukis dan membuat buku.Fara menyadari pentingnya pendidikan formal. Anaknya bersekolah di SLB dan belajar baca tulis dasar.Namun sebagai orang tua, ia memikirkan masa depan lebih jauh.“Baca tulis itu memang perlu. Tapi untuk anak seperti ini, yang lebih membutuhkan keterampilan itu,” tegasnya.Menurutnya, keterampilan praktis akan menjadi bekal hidup yang lebih nyata. Seni tari, misalnya membuka peluang pengalaman dan kepercayaan diri."Kalau dia serius dalam tari dan memang pintar, mungkin suatu saat bisa dipanggil ke mana-mana. Paling nggak, dia punya pengalaman," katanya.Baca juga: Kisah Afrilian, ASN yang Raih Beasiswa LPDP Disabilitas ke AmerikaAnaknya, Jasmin , berusia delapan tahun, sudah tiga kali tampil menari di acara publik. Ia baru mulai belajar menari tahun ini setelah pindah dari Semarang ke Magetan.Meski masih sering malu di atas panggung, Fara melihat kemajuan kecil yang berarti.


(prf/ega)