Alasan Kenapa Kemacetan di Jalur Puncak Terus Berulang

2026-01-12 05:00:28
Alasan Kenapa Kemacetan di Jalur Puncak Terus Berulang
BOGOR, – Kemacetan di jalur Puncak kembali menjadi pemandangan yang hampir selalu muncul setiap akhir pekan dan musim liburan.Arus kendaraan menumpuk, laju kendaraan melambat, sementara aktivitas wisata dan ekonomi tetap berjalan di sepanjang jalur pegunungan tersebut. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini terus berulang dari tahun ke tahun?Ketua Umum Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) Budi Susandi, mengatakan bahwa persoalan kemacetan Puncak tidak bisa dipandang hanya dari satu faktor.Baca juga: Laporkan Tempat Parkir yang Pasang Tulisan ‘Barang Hilang Bukan Tanggung Jawab Pengelola’KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Sejumlah kendaraan melintas di jalur Puncak, Cianjur, Jawa Barat, yang diselimuti kabut tebal, Kamis . Polisi mengimbau pengguna jalan meningkatkan kewaspadaan di jalur ini karena visibilitas menurun akibat cuaca ekstrem.Menurutnya, ada dua penyebab utama yang membuat Puncak hampir selalu macet ketika jumlah wisatawan meningkat.“Sebenarnya ada dua. Pertama, secara infrastruktur. Luas jalan itu kan tidak bisa diubah mendadak di akhir pekan,” ujar Budi, kepada Kompas.com .“Jalannya ya segitu. Tapi suplai kendaraannya tinggi. Misalkan jalan hanya menampung seribu kendaraan, tapi di akhir pekan bisa sepuluh ribu datang dalam waktu bersamaan. Jadi daya tampung jalan tidak cukup,” kata dia.Baca juga: Motor Listrik Honda WN7 Resmi MengaspalKOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Penampakan arus lalu lintas di Puncak Pass Bogor sampai Masjid Atta'Awun mengalami kemacetan sekitsr pukul 13.42 WIB, Minggu Pada saat yang sama, aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan wisata juga ikut menyumbang kepadatan. Mulai dari pedagang UMKM, tempat wisata, hingga angkot, semuanya memanfaatkan momentum libur untuk meningkatkan pendapatan.“Kedua, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar Puncak. UMKM, pedagang, jasa wisata, angkot, semua mengoptimalkan hari libur untuk mencari pendapatan lebih,” ucap Budi.“Banyak kendaraan yang menepi untuk makan, belanja, istirahat. Karena tidak diatur, tidak dikendalikan, akhirnya jadi bangkitan transportasi dan menambah kemacetan,” ujarnya.Baca juga: Video Pajero Sport Alami Diesel Runaway, Ini PenyebabnyaDok. Polisi/KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Kondisi arus lalu lintas saat diberlakukan one way. Sebuah ambulans diprioritaskan melinta namun pengendara motor ikut di belakang sehingga menyebabkan kemacetan di depan pintu keluar Gunung Mas, Puncak Bogor, Jawa Barat, Minggu .Menurut Budi, kondisi ini menunjukkan bahwa Puncak bukan sekadar jalur lalu lintas wisata, melainkan juga ruang ekonomi yang hidup. Akibatnya, interaksi antara mobilitas wisatawan dan aktivitas lokal kerap menciptakan titik-titik perlambatan.Dari sisi kebijakan transportasi, pembatasan kendaraan pribadi sering muncul sebagai wacana solusi. Namun, Budi menegaskan bahwa penanganan kemacetan tidak bisa bergantung pada satu kebijakan saja.“Solusi kemacetan itu tidak ada yang tunggal. Harus komprehensif. Sama seperti teori push and pull,” katanya.Baca juga: Tabrakan Beruntun di Tol Layang MBZ, Ingat Aturan di Lajur KananKOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Situasi kepadatan arus lalu lintas di Simpang Gadog atau selepas Exit GT Ciawi, arah Puncak Bogor, Jawa Barat, Sabtu . Antrean kendaraan sampai 3 kilometer.Ia menjelaskan, pendekatan “push” berarti mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sementara “pull” berarti pemerintah harus menyediakan layanan angkutan umum yang benar-benar menarik untuk dipilih.Salah satu contoh yang menurutnya relevan adalah kebijakan ganjil–genap, namun harus dibarengi fasilitas interkoneksi perjalanan.“Contohnya, ganjil–genap. Itu upaya pembatasan. Tapi harus didukung park and ride di pintu Tol Ciawi. Jadi orang dari Jakarta parkir mobil di sana, lalu naik shuttle bus ke Puncak atau Cianjur,” ujarnya.Baca juga: Curhatan Pemakai Honda HR-V 2016 Transmisi ManualKompas.com/Suhaiela Bahfein Lahan parkir di Rest Area Gunung Mas Puncak.


(prf/ega)