Suhu Global Tetap Tinggi, meski Siklus Alami Pemanasan El Nino Absen

2026-01-11 22:33:21
Suhu Global Tetap Tinggi, meski Siklus Alami Pemanasan El Nino Absen
- Laporan tahunan World Weather Attribution (WWA) mengungkapkan suhu global sepanjang 2025 tetap tinggi meski tidak adanya siklus alami pemanasan El Nino.Sementara itu, siklus La Nina yang terjadi tahun ini dan biasanya dikaitkan dengan suhu lebih dingin, juga tidak memberikan pengaruh pada suhu global.Tahun 2025 tetap termasuk di antara tiga tahun terpanas yang tercatat, dengan suhu rata-rata global selama tiga tahun melampaui ambang batas 1,5 derajat C untuk pertama kalinya.Hal ini menurut WWA merupakan dampak perubahan iklim yang didorong oleh penggunaan bahan bakar fosil.Sjoukje Philip, peneliti dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) mengungkapkan variabilitas iklim alami tidak dapat menjelaskan skala pemanasan yang terlihat tahun ini.“Tidak ada dalam model iklim alami yang dapat menjelaskan mengapa tahun 2025 sepanas ini,” katanya dikutip dari Down to Earth, Selasa .“Peningkatan emisi gas rumah kaca yang terus menerus telah mendorong iklim kita ke keadaan baru yang lebih ekstrem, di mana bahkan peningkatan kecil dalam suhu global sekarang memicu dampak yang jauh lebih parah,” paparnya lagi.Baca juga: Kita Tak Bisa Menghindar Lagi, Suhu Bumi Naik Minimal 2,3 Derajat CelsiusSejak Perjanjian Paris sendiri, pemanasan global telah meningkat sekitar 0,3 derajat C yang berdampak besar panas ekstrem, curah hujan dan kebakaran.Selain itu, menurut laporan baru yang dipublikasikan 30 Desember 2025 ini, perubahan iklim telah membuat badai menjadi lebih basah dan lebih kuat, kekeringan serta kebakaran hutan memburuk yang akhirnya mendorong jutaan orang mendekati batas adaptasi.WWA pun memperingatkan bahwa adaptasi saja tidak dapat mengimbangi risiko yang terus meningkat. Tanpa transisi yang cepat dari bahan bakar fosil, masyarakat akan kesulitan untuk mengatasi di tahun-tahun mendatang.Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara cepat dan drastis tetap menjadi cara paling efektif untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.“Laporan kami menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk mengurangi emisi karbon, upaya tersebut belum cukup untuk mencegah kenaikan suhu global dan dampak terburuknya," kata Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London dan salah satu pendiri WWA."Para pengambil keputusan harus menghadapi kenyataan bahwa ketergantungan mereka yang terus menerus pada bahan bakar fosil merenggut nyawa, menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar, dan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan pada masyarakat di seluruh dunia,” tambahnya.WWA mengidentifikasi 157 peristiwa cuaca ekstrem pada tahun 2025 yang memenuhi kriteria dampak kemanusiaannya. Banjir dan gelombang panas adalah yang paling sering terjadi, masing-masing dengan 49 peristiwa, diikuti oleh badai (38), kebakaran hutan (11), kekeringan (7), dan gelombang dingin (3).Dari 22 peristiwa yang dianalisis secara mendalam di Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Oseania, 17 ditemukan menjadi lebih parah atau lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim.Baca juga: Kebakaran, Banjir, dan Panas Ekstrem Warnai 2025 akibat Krisis Iklim


(prf/ega)