Gubenur NTT Soroti Jangkar Kapal Rusak Terumbu Karang di Labuan Bajo, Singgung Pariwisata Berkelanjutan

2026-01-12 06:57:35
Gubenur NTT Soroti Jangkar Kapal Rusak Terumbu Karang di Labuan Bajo, Singgung Pariwisata Berkelanjutan
LABUAN BAJO, - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena turut merespons rusaknya terumbu karang akibat jangkar kapal wisata di perairan Pulau Sebayur Kecil, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.Menurut dia, ada tumpang tindih kewenangan terkait pengelolaan kapal wisata di Labuan Bajo. Pemerintah provinsi dan kabupaten kerap tidak dilibatkan dalam urusan izin maupun pengawasan aktivitas kapal wisata."Saya sudah dapat banyak cerita juga dari Pak Bupati misalnya KSOP ini, dia urus segala macam urusan menyangkut izin kapal dan segala macam di sini. Tapi kami sendiri, provinsi dan kabupatennya, tidak bisa mengetahui dan mengintervensi di situ. Sementara sampahnya, sementara kayak kasus kerusakan itu, kan orang pasti larinya kan ke kami, ke gubernur, ke bupati," ungkap Melkianus saat peresmian PLTS milik Sudamala Resorts di Pulau Seraya Kecil, pada Sabtu .Baca juga: Dianggap Getok Harga Kuliner di Labuan Bajo hingga Rp 16 Juta, Pedagang BantahPemerintah daerah justru menanggung dampak negatif dari aktivitas kapal wisata yang tidak mereka kelola."Nanti kami coba atur cara dulu ya, kami ini kan bagian yang mendapatkan pekerjaan sebagai pelengkap derita di sini, karena kami tidak tahu apa-apa. Jumlah kapal di sini berapa juga kami tidak bisa tentukan, rute dia ke mana-mana kami tidak tahu, retribusi dia masuk kepada kami tidak ada dari urusan kapal-kapal ini," katanya.Baca juga: Jangkar Kapal Wisata Rusak Terumbu Karang di Labuan Bajo, KSOP Panggil Kapten KapalIa berharap ada perbaikan dalam tata kelola wisata maritim di Labuan Bajo agar daerah juga memperoleh manfaat yang adil.Menurut dia, pelaku pariwisata di NTT, terutama di Labuan Bajo harus bersama-sama menjaga dan melestarikan ekosistem alam.Ia berharap langkah itu dapat diikuti pelaku usaha hotel yang lain.Ia menambahkan, saat ini wisatawan akan memilih destinasi pariwisata berbasis lingkungan."Saat ini wisatawan memilih sebuah destinasi pariwisata berdasarkan penggunaan energi yang berbasis di daerah tersebut. Ke depan ini, orang itu akan menghitung, berdasarkan daerah itu pariwisata berbasis apa. Kalau pariwisata berbasis lingkungan, energi baru terbarukan, pangsa pasarnya selalu ada," tegas Melki.Ia melanjutkan, pariwisata memiliki nilai tambah jika mempunyai ekosistem, salah satunya berbasis kebudayaan lokal dan lingkungan.


(prf/ega)