KENDAL, - Wacana sekolah 6 hari untuk siswa SMA dan SMK di Jawa Tengah masih menuai pro dan kontra.Terkait dengan hal itu, Wakil Bupati Kendal Benny Karnadi menyetujui wacana sekolah 6 hari untuk siswa SMA dan SMK tersebut.Ia beralasan bahwa sekolah 6 hari untuk SMA dan SMK bisa mencegah adanya tawuran.Sebab, pada malam hari libur, seperti pada malam Sabtu dan malam Minggu, digunakan oleh anak-anak remaja seusia SMA dan SMK untuk nongkrong.“Nah, mereka pada nongkrong bergerombol pada malam hari, yang menyebabkan rawan tawuran,” kata Benny, Senin .Baca juga: Siswa SMK di Pati Pilih Masuk Sekolah 6 Hari: Fokus Praktik, Pulang Tidak KesoreanBenny mengaku dirinya mengetahui banyaknya pelajar SMA dan SMK yang menggunakan waktu malam pada hari libur untuk nongkrong dari Polres.“Polres pada malam Sabtu dan Minggu melakukan operasi keliling mulai jam 11 malam hingga subuh. Dan selalu banyak anak-anak muda yang bergerombol dan dibubarkan,” terangnya.Benny berharap dengan kembali diberlakukan sekolah 6 hari untuk SMA dan SMK, gedung sekolah bisa dipakai lagi oleh murid yang masuk siang ke sore.“Pulang sekolahnya, kan lebih awal,” ujarnya.Sama dengan Wakil Bupati, Ketua DPRD Kendal, Mahfud Sodiq, menyampaikan dukungannya terhadap rencana pemberlakuan kembali sekolah enam hari di Jawa Tengah.Dukungan itu muncul setelah berbagai keluhan masyarakat disampaikan kepadanya, mulai dari orang tua murid, guru, hingga tokoh masyarakat yang menilai pola lima hari sekolah belum sepenuhnya sesuai kondisi di lapangan.“Karena pulang sore, kesempatan anak untuk mengembangkan bakat di luar akademik, seperti kegiatan olahraga, seni, ataupun pengembangan keterampilan lainnya menjadi sulit,” ujarnya.Baca juga: Wacana 5 atau 6 Hari Sekolah di Purworejo Belum Diputuskan, DPRD Tunggu Pembentukan Tim KajianDi samping itu, jelas Mahfud, masalah keselamatan siswa saat perjalanan pulang juga menjadi perhatian.Sebab, ketika jam pulang sekolah bersamaan dengan buruh dan pekerja yang selesai bekerja, transportasi umum menjadi penuh dan rawan berdesakan.Situasi ini semakin terasa bagi siswa yang tinggal di wilayah pegunungan atau pedesaan dengan akses transportasi terbatas.Perjalanan pulang sore hari dianggap memberatkan, terutama bagi siswa perempuan yang harus melintasi rute lebih jauh atau melalui daerah yang minim transportasi umum."Di beberapa daerah, siswa bahkan dilaporkan pulang mendekati malam. Kondisi tersebut meningkatkan risiko perundungan maupun gangguan keamanan di perjalanan," ujarnya.
(prf/ega)
Setuju Sekolah 6 Hari, Wabup Kendal: Meminimalisir Pelajar Tawuran dan Nongkrong
2026-01-12 05:55:41
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:24
| 2026-01-12 05:48
| 2026-01-12 05:29
| 2026-01-12 05:15
| 2026-01-12 05:02










































