Uskup Amboina Tiadakan "Open House" Natal demi Bantu Korban Banjir Sumatera

2026-02-01 22:40:51
Uskup Amboina Tiadakan
AMBON, – Keuskupan Amboina di Kota Ambon, Maluku, memutuskan untuk membatalkan rencana menggelar open house Natal tahun ini. Langkah ini diambil sebagai bentuk bela rasa terhadap bencana banjir yang menimpa warga di Aceh dan Sumatera."Ada dua alasan ditiadakan open house. Pertama saya tahu persis bahwa pemerintah sedang tidak baik-baik saja. Ada efisiensi dan itu berdampak. Sehingga kalau kita buat acara dengan dana besar dihabiskan untuk makan minum saya rasa ini tidak adil," ujar Uskup Diosis Amboina, Monseigneur Seno Ngutra, Selasa .Menurut Mgr Seno Ngutra, pemborosan dana untuk perayaan di tengah kondisi ekonomi yang sulit terasa tidak adil bagi masyarakat kecil. Alasan kedua yang menjadi poin utama adalah empati mendalam terhadap bencana alam yang melanda wilayah Sumatera.Uskup asal Kei tersebut menekankan bahwa meski jarak antara Maluku dan Sumatera sangat jauh, rasa kemanusiaan tidak boleh terhalang oleh asal-usul maupun perbedaan agama.Baca juga: Uskup Bandung: Natal Nasional Dirayakan Sangat Sederhana, Donasi untuk Bencana"Maka bagi saya tidak elok juga di satu sisi masyarakat di Aceh dan Sumatera untuk makan saja susah. Itu sangat menggugah rasa kemanusiaan. Karena itu saya putuskan untuk tidak membuat open house," tegasnya di Gedung Keuskupan Amboina.Meski meniadakan jamuan resmi, Uskup Seno mengaku tetap merayakan sukacita Natal dengan tradisi di Maluku, yakni saling memberi selamat kepada pemerintah dan tokoh agama. Ia menjelaskan bahwa penghematan anggaran dari pembatalan acara ini akan dialihkan sepenuhnya untuk bantuan kemanusiaan.“Sama sekali saya tidak mengatakan apa yang mereka lakukan itu salah. Tidak. Ini kebiasaan kita di Maluku jadi tetap dijaga. Tetapi ini keputusan pribadi saya. Sehingga penghematan ini akan kami sumbangkan untuk korban banjir,” kata Mgr. Seno.Selain melalui dana penghematan pribadi, 38 keuskupan di seluruh Indonesia juga akan mengirimkan sumbangan melalui kolekta khusus. Untuk memaknai kedamaian Natal, Keuskupan Amboina juga akan membagikan paket sembako di 8 paroki yang tersebar di Kota Ambon.Nantinya, tiap paroki akan menyalurkan 10 paket sembako kepada keluarga miskin. Uskup berharap umat kristiani tidak hanya mendoakan para korban bencana, tetapi juga melakukan aksi nyata untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-01 21:56