Dampak Perubahan Iklim Global, Bencana Hidrometeorologi Kian Ancam Kalteng

2026-01-12 07:25:46
Dampak Perubahan Iklim Global, Bencana Hidrometeorologi Kian Ancam Kalteng
PALANGKA RAYA, - Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang rentan terhadap dampak perubahan iklim global.Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi menjadi kenyataan yang tidak bisa diabaikan.Pemerintah daerah diharapkan segera menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan.Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Herson B Aden, menyoroti dampak ekstrem iklim yang sedang dialami di berbagai wilayah Indonesia.Baca juga: Industri Sawit hingga Tambang di Kalteng Picu Deforestasi, Walhi Desak Pemerintah Pulihkan Ekosistem Hutan"Di Indonesia sendiri, kejadian terbaru akibat iklim ekstrem sedang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang sedang mengalami banjir bandang dan tanah longsor yang menimbulkan kerugian yang sangat besar," ungkap Herson di Palangka Raya, Senin .Herson menegaskan bahwa Kalteng sangat rentan terhadap perubahan iklim.Berdasarkan data historis, provinsi ini telah menghadapi kebakaran hutan dan gelombang panas akibat fenomena El Nino pada 2015, serta banjir berulang yang terjadi sejak 2010 hingga 2024.Selain itu, terdapat tren peningkatan suhu dan kejadian ekstrem lainnya."Kondisi hidrologi, karakteristik lahan gambut, luasnya kawasan hutan, serta dinamika sosial ekonomi masyarakat menuntut adanya perencanaan adaptasi yang terarah, ilmiah, dan dapat diimplementasikan lintas sektor," tuturnya.Herson menambahkan bahwa pemerintah pusat telah menunjukkan komitmen dalam pengendalian perubahan iklim melalui ratifikasi Paris Agreement."Pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat dalam upaya pengendalian perubahan iklim melalui ratifikasi Paris Agreement yang dituangkan dalam NDC (Nationally Determined Contribution), dan kini diperkuat lagi melalui SNDC (Strategi Jangka Panjang untuk Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim)," jelasnya.Baca juga: Tujuh Daerah yang Dekat dengan Pesisir di Kalteng Ini Terancam Banjir Rob, Mana Saja?Penyusunan Dokumen Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Provinsi Kalteng dinilai strategis untuk mengidentifikasi risiko, merumuskan langkah adaptasi, serta mengintegrasikannya ke dalam rencana pembangunan daerah.Herson menekankan pentingnya sinergi dalam penyusunan dokumen tersebut. "Saya meminta kepada seluruh Perangkat Daerah untuk mencermati isi dokumen ini agar selaras dengan arah pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah," pungkasnya.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada tujuh daerah pesisir Kalteng yang berpotensi mengalami bencana banjir rob, yaitu wilayah pesisir selatan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Seruyan, Katingan, Pulang Pisau bagian selatan, dan Kapuas."Untuk masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang ditimbulkan seperti angin kencang, menambah tinggi gelombang laut, genangan air, banjir, dan pohon tumbang," jelas Prakirawan Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Reniatana, kepada Kompas.com, Senin .Kepala Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng, Indra Wiratama, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan upaya mitigasi bencana dengan memetakan wilayah atau daerah rawan banjir.Baca juga: Alih Fungsi Hutan untuk Sawit hingga Tambang Marak, Bencana Ekologis Bayangi Kalteng"Kami juga sudah berkoordinasi, komunikasi, kerja sama, dan sosialisasi dengan instansi terkait seperti BPBD Kabupaten/Kota, Kementerian PU, Balai Wilayah Sungai (BWS), BMKG, serta kecamatan dan Desa/Kelurahan terkait peringatan dini dan langkah-langkah kesiapsiagaan terhadap bencana yang dilakukan setiap minggu," bebernya saat dikonfirmasi Kompas.com melalui aplikasi perpesanan.Indra juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana."Kami juga memperkuat evaluasi dan pelaporan terkait perkembangan data dan keadaan di daerah serta mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung untuk membantu pelaksanaan evaluasi dan penyelamatan," pungkasnya.


(prf/ega)