Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya Fatherless

2026-01-12 04:32:36
Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya Fatherless
– Peringatan Hari Ayah Nasional yang jatuh setiap 12 November menjadi momen untuk menyoroti kembali pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga.Bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan juga secara emosional, sesuatu yang masih sering terabaikan di banyak rumah tangga Indonesia. Fenomena ini biasa dikenal sebagai fatherless.Menurut Psikolog Keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., fenomena fatherless tidak hanya dialami oleh anak yang ditinggalkan secara fisik oleh ayahnya, tetapi juga oleh mereka yang tumbuh dengan figur ayah yang secara emosional tidak hadir.“Ketidakhadiran ayah bisa membuat anak merasa tidak cukup berharga atau tidak pantas dicintai. Pola ini bisa terbawa hingga dewasa jika tidak disadari dan diproses,” ujarnya kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.Sukmadiarti menekankan bahwa memahami luka emosional ini adalah langkah awal untuk memutus rantai fatherless agar tidak berulang pada generasi berikutnya.“Yang penting adalah bagaimana seseorang memahami luka itu, berdamai dengan masa lalunya, dan belajar untuk tidak mengulang pola yang sama pada anaknya kelak,” katanya.Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penyembuhan tidak bisa dilakukan dengan penyangkalan, tetapi melalui penerimaan dan komunikasi yang terbuka di dalam keluarga.“Anak yang merasa didengar dan dihargai akan tumbuh dengan konsep diri yang lebih sehat. Itulah fondasi untuk mencegah rantai fatherless berulang,” ucapnya.Baca juga: Kapan Hari Ayah di Indonesia? Ini Bedanya dengan Hari Ayah Internasionalfreepik Hari Ayah Sedunia dan Peran Ayah bagi Kesehatan Mental AnakIstilah fatherless sendiri menggambarkan kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.Dalam konteks ini, ayah mungkin masih tinggal serumah, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam pengasuhan, tidak memberi perhatian, atau tidak menjadi sumber rasa aman bagi anak.“Banyak anak yang tumbuh dengan ayah di rumah, hadir secara fisik, tapi secara emosional tidak ada. Jadi kehadiran fisik tidak menjadi patokan,” kata Psikolog Klinis Widya S. Sari, M.Psi., dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Rabu .Widya menjelaskan, sebagian anak bahkan baru menyadari dirinya berasal dari keluarga fatherless saat sudah dewasa, ketika mulai memahami dinamika keluarga, relasi, dan pola emosi yang terbentuk sejak kecil.“Banyak yang baru sadar setelah dewasa karena dulunya tidak ada pembanding atau tidak memiliki pemahaman berbeda,” ujarnya.Baca juga: 50 Ucapan Hari Ayah Nasional 12 November 2025, Hangat dan SantaiDi tengah tuntutan ekonomi dan budaya patriarkal, banyak ayah yang terjebak pada peran penyedia materi semata.Padahal, kehadiran emosional seorang ayah sama pentingnya bagi pertumbuhan psikologis anak.


(prf/ega)