IPW Kritik Fit and Proper Test Jadi Ajang Transaksional, Dukung Ide Kapolri Ditunjuk Presiden

2026-02-06 11:33:31
IPW Kritik Fit and Proper Test Jadi Ajang Transaksional, Dukung Ide Kapolri Ditunjuk Presiden
JAKARTA, - Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso menilai mekanisme uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri di DPR pada praktiknya menjadi ajang transaksional karena hanya menguji satu kandidat yang diajukan presiden.Karena itu, ia memandang usulan agar Kapolri langsung ditunjuk presiden tanpa mekanisme di DPR menjadi sinyal yang baik."Akhirnya proses fit and proper test ini menjadi ajang transaksional, mungkin bukan soal transaksi dalam bentuk sejumlah materi, tapi karena Kapolri yang di-fit and proper test ini cuma satu maka Kapolri yang diajukan ini menjadi punya utang budi kepada DPR," tutur Sugeng kepada Kompas.com, Kamis .Baca juga: IPW Sebut Perlu Revisi UU Polri agar Kapolri Ditunjuk Langsung PresidenSugeng menyoroti sikap DPR yang selalu menerima calon tunggal justru membuka ruang transaksi politik terselubung.Ia menegaskan bukan berarti transaksi materi, tetapi relasi kepentingan yang terbentuk antara calon Kapolri dan para anggota DPR.Padahal, semestinya Komisi III DPR selaku pelaksana fit and proper test bisa menolak apabila presiden hanya mengirim satu nama calon Kapolri."Dalam praktiknya ketika presiden mengajukan calon Kapolri hanya satu atau tunggal, DPR tidak menolak. Semestinya DPR menolak tuh, menolak untuk fit and proper test hanya satu, meminta presiden harus menyiapkan calon lebih dari satu, minimal dua lah," jelasnya."Karena kan namanya fit and proper test ya di sini dilakukan kontestasi atau beauty contest yang terbaik, kalau yang terbaik cuma satu kan bukan yang terbaik itu, tidak bisa melakukan perbandingan," sambung dia.Baca juga: Usulan Pengangkatan Kapolri Tak Lewat DPR, Ini Kata Komisi Reformasi PolriSugeng mengingatkan, Komisi III DPR berisi banyak praktisi hukum yang memiliki beragam kepentingan.Ketika Kapolri terpilih merasa berutang budi, muncul potensi pemberian privilege tertentu dari institusi Polri kepada anggota komisi dalam memanfaatkan kewenangan Kapolri.“Ada potensi besar bahwa Kapolri yang terpilih oleh Komisi III memberikan privilege tertentu terkait kewenangan yang dimilikinya untuk bisa diakses oleh anggota Komisi III dengan segala bentuk kepentingan," ujarnya.IPW mendorong agar presiden mengajukan setidaknya dua hingga tiga calon Kapolri agar setiap proses seleksi benar-benar menjadi ajang penilaian kualitas dan bukan formalitas.Mekanisme tersebut dinilai lebih objektif dan mampu meminimalisasi relasi transaksional.Di lain sisi, Sugeng menilai usulan agar Kapolri ditunjuk langsung oleh presiden tanpa mekanisme politik di DPR hanya mungkin dilakukan jika Undang-Undang Polri direvisi.Baca juga: Mencuat Wacana Kapolri Dipilih Presiden Tanpa Dites DPR, Ide Siapa? "Usulan bahwa presiden bisa langsung menunjuk Kapolri tidak melalui mekanisme screening politik di DPR itu bagus, tapi itu bisa atau tidak bisa terlaksana, apabila UU tentang Kepolisian RI tidak diubah, karena fit and proper test tersebut, atau mekanisme dimintakan persetujuan kepada DPR itu ada diatur dalam UU. Jadi harus menunggu perubahan UU Kepolisian," tutupnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-06 11:08