JAKARTA, - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan bahan bakar campuran etanol 10 persen atau E10 dapat dilakukan pada 2028 atau lebih cepat.Program ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah memperluas pemanfaatan energi baru dan terbarukan di sektor transportasi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin.Namun, dikatakan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi, untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah. Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi terutama soal ketersediaan bahan baku.Baca juga: Bobibos Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan Impor BBM/M. Fathan Toyota Innova Zenix Hybrid Flexy Fuel Bioethanol di GIIAS 2024Selama ini, produksi etanol di dalam negeri bergantung pada molase atau limbah cair tebu, yang juga digunakan untuk kebutuhan pangan dan industri lain.“Kompetisi bahan baku menjadi isu utama yang dapat membatasi kapasitas produksi bioetanol ke depan,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI yang disiarkan daring pada Selasa .Selain pasokan bahan baku, aspek keekonomian juga menjadi tantangan. Harga bahan bakar nabati yang masih berfluktuasi dan belum adanya skema insentif jangka panjang membuat investasi di sektor bioetanol belum menarik bagi pelaku industri.“Stabilitas harga dan dukungan fiskal masih perlu diperkuat agar pelaku usaha mau berinvestasi,” kata Eniya.Tantangan lain adalah keterbatasan infrastruktur distribusi dan penyimpanan. Fasilitas di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) maupun sarana angkut etanol belum sepenuhnya siap untuk mendukung penyaluran secara nasional.Kondisi ini berpotensi memperlambat penyebaran E10 ke seluruh wilayah Indonesia.Baca juga: Transisi Energi Indonesia: Implementasi Biodiesel B40 dan B50Pertamina doc. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persenDari sisi teknologi, proses produksi bioetanol yang efisien masih memerlukan investasi besar untuk riset dan pengembangan.Eniya menjelaskan, teknologi konversi yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu menekan biaya produksi, sehingga harga jual bioetanol sulit bersaing dengan bensin konvensional.Selain itu, pemerintah juga harus memastikan produksi bioetanol tetap memenuhi prinsip keberlanjutan agar tidak menimbulkan isu lingkungan seperti deforestasi atau konversi lahan pangan.“Kita perlu teknologi yang efisien sekaligus ramah lingkungan agar penerapan E10 tidak menimbulkan dampak baru,” kata Eniya.Diketahui, saat ini impor bensin masih tinggi, mencapai sekitar 22,8 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri baru menyentuh angka 13,84 juta kiloliter.Baca juga: Benarkah Kecepatan Bensin Menguap Pengaruhi Performa Kendaraan?Screenshoot/ESDM Konsumsi bensin dan bioetanol per-tahunMelalui penerapan bioetanol, sebagian impor tersebut diharapkan dapat digantikan oleh pasokan energi domestik."Keberhasilan penerapan E10 sangat bergantung pada kolaborasi lintas kementerian dan sektor industri, mulai dari penyedia bahan baku hingga operator energi," tutupnya.
(prf/ega)
ESDM Beberkan Tantangan Menuju Penerapan E10 di Indonesia
2026-01-11 03:33:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:19
| 2026-01-11 04:07
| 2026-01-11 04:06
| 2026-01-11 03:36
| 2026-01-11 03:25










































