BMKG Beberkan Faktor Pemicu Tanah Longsor di Cilacap: Hujan Berhari-hari hingga Kondisi Atmosfer Basah

2026-01-12 06:14:52
BMKG Beberkan Faktor Pemicu Tanah Longsor di Cilacap: Hujan Berhari-hari hingga Kondisi Atmosfer Basah
– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan rangkaian faktor meteorologis yang menjadi penyebab tanah longsor di Cilacap, khususnya di wilayah Majenang.Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan hujan lebat yang berlangsung sejak awal pekan telah meningkatkan kadar air di dalam tanah, membuat lereng semakin jenuh dan rentan bergerak.Baca juga: Update Operasi SAR Longsor Cilacap: 8 Jenazah Ditemukan, Pencarian Lanjut di Hari KeempatPengamatan di Pos Hujan Majenang menunjukkan curah hujan yang signifikan pada 10-11 November 2025, masing-masing 98,4 mm/hari dan 68 mm/hari.Setelah itu, wilayah tersebut masih mengalami hujan ringan yang mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga pergerakan tanah tak terhindarkan.“Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ujar Guswanto dalam laman resmi BMKG, Sabtu .BMKG mencatat hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut menjadi penyebab utama tanah longsor di Cilacap, memperburuk kestabilan struktur tanah terutama di wilayah perbukitan.Baca juga: Update Longsor Cilacap: Pencarian Dikebut, Material Setebal 8 Meter Jadi KendalaSelain faktor lokal, BMKG menyebut sejumlah fenomena atmosfer turut memperkuat potensi hujan lebat di Jawa Tengah, termasuk di Cilacap.Guswanto menjelaskan, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang atmosfer lain sedang melintas, sehingga mendukung terbentuknya awan hujan dalam jumlah besar.Selain itu, terdapat pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin (shearline) di sekitar Jawa, yang meningkatkan pertumbuhan awan konvektif.“Kondisi atmosfer tersebut mendorong terbentuknya awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat atau petir serta angin kencang,” ujarnya.Baca juga: Sempat Telepon Istri dan Anak, Dedi Syok Rumahnya Rata Tertimbun Longsor di CilacapDirektur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan hasil pemantauan atmosfer menunjukkan kelembapan udara sangat tinggi pada beberapa lapisan atmosfer, mulai dari 850 mb, 700 mb, hingga 500 mb, dengan nilai mencapai 70-100 persen.Kondisi udara basah di berbagai ketinggian ini membuat awan hujan dapat tumbuh lebih besar dan lebih intens.BMKG sebelumnya telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Cilacap pada periode 11-20 November 2025, termasuk prediksi hujan sedang hingga lebat kembali pada 19-22 November 2025."Pada rilis tersebut juga disampaikan bahwa hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19-22 November 2025,” ujar Andri.Baca juga: Kisah Daryana Selamat dalam Longsor Cilacap, Istri dan Dua Anaknya TewasMelihat potensi lanjutan cuaca ekstrem, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan kesiapan mendukung upaya darurat pascabencana tanah longsor di Cilacap bersama BNPB melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).


(prf/ega)