Cerita Mahasiswa Jogja Kesulitan Hubungi Keluarga di Aceh, Tahu Ayah Meninggal dari Medsos

2026-01-12 05:50:11
Cerita Mahasiswa Jogja Kesulitan Hubungi Keluarga di Aceh, Tahu Ayah Meninggal dari Medsos
YOGYAKARTA, – Bencana banjir dan tanah longsor di Aceh menyisakan luka mendalam bagi mahasiswa asal Aceh yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.Terputusnya komunikasi membuat sebagian dari mereka harus menerima kabar duka keluarga melalui media sosial.Ketua Umum Taman Pelajar Aceh Yogyakarta, Mufariq, mengungkapkan salah satu mahasiswa mengetahui ayahnya meninggal dunia bukan dari keluarga, melainkan dari unggahan di media sosial.“Salah satu mahasiswa kami di hari keempat enggak tahu kabar keluarga, buka Tiktok dia lihat sudah enggak ada ayahnya. Tahu dari medsos oh itu ayahnya,” kata Mufariq saat ditemui di Asrama Putri Aceh Cut Nyak Dien, Kota Yogyakarta, Senin .Baca juga: Istri Hanyut Saat Banjir Aceh Tamiang, Mulyono: Semangat Hidup Saya Sekarang Cuma Anak-anakMufariq menyebut, dari ribuan mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Yogyakarta, tercatat sementara 167 mahasiswa berasal dari daerah yang terdampak langsung banjir dan tanah longsor.“Untuk sementara 167 (mahasiswa terdampak),” ujarnya.Bencana tersebut melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dan telah berlangsung hampir dua pekan.Hingga kini, jaringan komunikasi di sejumlah wilayah masih belum stabil.Akibatnya, banyak mahasiswa kesulitan menghubungi keluarga dan terus berupaya mencari informasi melalui laman Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh maupun media sosial.Selain beban psikologis, dampak ekonomi juga dirasakan mahasiswa. Bencana terjadi di akhir bulan, saat mahasiswa biasanya mengandalkan kiriman uang dari keluarga di kampung halaman.“Ada yang laporan ke saya minta uang untuk makan,” kata Mufariq.“Tidak ada banjir dan tanah longsor saja kami mahasiswa sulit saat akhir bulan,” imbuhnya.Baca juga: Ulama Aceh Desak Prabowo Tetapkan Status Bencana NasionalDi tengah kondisi tersebut, mahasiswa Aceh yang tersebar di 10 asrama di Yogyakarta berupaya saling menguatkan. Mereka mengajak mahasiswa berkumpul di asrama, makan bersama, dan menjaga kondisi mental.Asrama Putri Aceh Cut Nyak Dien sempat membuka dapur umum pada 3 hingga 8 Desember 2025. Namun, kegiatan itu hanya bertahan lima hari karena keterbatasan dana.“Kami saat itu buka dapur umum 3 Desember sampai 8 Desember gak kuat ekonomi juga kami swadaya mahasiswa,” ujar Mufariq.


(prf/ega)