Dosen Sastra Indonesia Fida Dapat Beasiswa S3 ke Austria Berkat Riset Bahasa dan AI

2026-01-12 04:57:57
Dosen Sastra Indonesia Fida Dapat Beasiswa S3 ke Austria Berkat Riset Bahasa dan AI
- Pengajaran tata bahasa Indonesia dan kecerdasan buatan (AI) merupakan dua hal favorit Fida Pangesti.Dosen Bahasa Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini tengah menempuh studi S3 di Austria.Ia kuliah sebagai penerima Indonesia-Austria Scholarship Programme (IASP) yang diselenggarakan oleh Ditjen Diktiristek Kemendikti saintek, bekerja sama dengan OeAD-GmbH (Austria's Agency for Education and Internationalisation) atas nama Kementerian Pendidikan, Sains, dan Riset Austria.Ia sudah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, namun saat itu syarat tahun kelulusan belum bisa dipenuhinya.Baca juga: Beasiswa GEM Pendidikan Sains bagi Guru-Calon Guru Kuliah S2 di ITBSembari ia mengumpulkan pengalaman akademik mulai dari Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024.“Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik saya sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,”ujarnya, dikutip dari situs UMM, Minggu .Fida menjalani proses seleksi mulai dari berkas administrasi hingga wawancara luring dengan empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia yang langsung membahas inti penelitiannya.“Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung fokus ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” ungkapnya.Penelitian utama Fida berjudul AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang fokus menilai bagaimana generative-AI bisa meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar.“Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” kata Fida.iStockphoto/nirat Ilustrasi beasiswa LPDP, imbas kebijakan imigrasi Amerika SerikatMenurut Fida Pangesti, S.Pd., M.A. (gelarnya saat ini), materi tata bahasa adalah salah satu yang paling sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pelajar.Dia akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI dan dilanjutkan dengan wawancara mendalam dengan pendekatan mix method.Baca juga: Hari Ini Pengumuman Seleksi Beasiswa LPDP 2025 Tahap 2, Cek LinknyaRisetnya memang belum berjalan, tetapi penyusunan desain intervensi menjadi tantangan tersendiri bagi Fida karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik.“Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna, bahkan disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya.Penelitiannya menunjukkan bahwa AI bukan hanya tren, tetapi alat strategis dalam pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih mudah, menarik, dan siap bersaing di ranah global.Kehidupan di Austria juga membawa banyak kejutan menyenangkan. Mulai dari budaya Ruhetag yang membuat semua toko tutup pada hari Minggu, mengutamakan pejalan kaki.Hingga banyaknya diskusi serta workshop lintas budaya, lintas agama, dan lintas disiplin ilmu.Baca juga: Pemerintah Siapkan Beasiswa bagi 150.000 Guru dan Kurangi Beban AdministratifPerpustakaan menjadi tempat favorit Fida. Di tengah suasana tenang, ia sering melihat lansia yang tetap giat belajar, sebuah pemandangan yang menurutnya sangat menginspirasi.


(prf/ega)