Tren Viral Jadi Tumpuan Pedagang Mainan di Asemka, dari Labubu sampai Gasing

2026-01-12 03:39:53
Tren Viral Jadi Tumpuan Pedagang Mainan di Asemka, dari Labubu sampai Gasing
JAKARTA, — Tren viral di media sosial kini menjadi penentu utama roda penjualan pedagang mainan di Pasar Asemka, Tamansari, Jakarta Barat.Di tengah sepinya pembeli dan menurunnya daya beli masyarakat, para pedagang dipaksa beradaptasi dengan cepat—menyisihkan strategi lama dan menggantungkan harapan pada mainan yang sedang ramai diperbincangkan di dunia maya.Sahidi (48), pedagang mainan grosir yang telah berjualan di Asemka sejak 2018, mengakui bahwa pola berdagangnya kini berubah drastis seiring pengaruh media sosial.Baca juga: Penjual Kosmetik Ilegal di Bekasi Beli Bahan Baku dari Pasar AsemkaJika dulu ia berani menyetok berbagai jenis mainan dalam jumlah besar, kini Sahidi hanya berani menampung barang-barang yang sedang viral."Biasanya mah tergantung trennya, viralnya apa. Kalau enggak viral, susah," kata Sahidi saat ditemui Kompas.com di lapaknya, Selasa .Sahidi mencontohkan fenomena boneka Labubu yang sempat meledak dan dicari di mana-mana beberapa waktu lalu.Melihat peluang bisnis, Sahidi langsung berlomba dengan pedagang lain untuk menyetok versi ekonomis dari boneka tersebut karena peminatnya membeludak."Kemarin tuh sempat rame yang boneka-boneka Labubu tuh, kami kan jual versi murah itu kan, nah itu lumayan tuh (penjualannya). Tapi Labubunya abis, sebulan lah, ilang lagi (pelanggannya)," ucap Sahidi.Setelah tren boneka mereda, Sahidi beralih ke tren mainan berikutnya yang sedang naik daun di kalangan anak laki-laki, yakni gasing modern."Anak sekarang lagi pada doyan main gasing. Tapi gasingnya beda enggak kayak kita dulu, lebih cakep dia. Ada yang ada arenanya. Lagi banyak sih (yang cari), gasing," ujarnya.Baca juga: Perjuangan Daniel Biayai Kuliah Anak dari Hasil Jualan Topi di Asemka...Selain gasing, momen pergantian tahun juga dimanfaatkan Sahidi untuk menjajakan terompet dan petasan. Namun, ia mengaku tidak berani menyetok terlalu banyak karena persaingan yang ketat dengan pedagang lainnya.Sahidi menuturkan, apabila hanya mengandalkan penjualan mainan standar seperti mobil-mobilan atau robot yang biasa dibeli untuk kado ulang tahun, pendapatannya tidak akan cukup untuk menutup biaya sewa lapak."Kalau ngarepin pembeli yang beli kado (ulang tahun) atau orang lewat mah, wah enggak bisa nutup sewa lapak. Beneran," keluh Sahidi.Ia juga melihat adanya penurunan daya beli masyarakat yang signifikan dibandingkan masa sebelum pandemi Covid-19.Menurut dia, pengunjung yang datang ke Pasar Asemka kini jauh lebih selektif dan hemat dalam membelanjakan uang.


(prf/ega)