JAKARTA, - Di tengah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menata kawasan Monumen Nasional (Monas), pedagang asongan serta pedagang kaki lima (PKL) masih tetap terlihat beraktivitas di sekitar pintu masuk Monas.Meski telah dilakukan penertiban berkali-kali, termasuk yang sempat memicu kericuhan pada Juli 2025, keberadaan mereka terus berulang setiap hari, menyisakan tarik-menarik kepentingan antara aturan dan kebutuhan hidup.Pengelola Monas menegaskan bahwa kawasan inti Monas adalah zona steril tanpa aktivitas jual beli. Namun di lapangan, kenyataan menunjukkan hal yang lebih kompleks pedagang bertahan di area pintu masuk.Baca juga: Kisah PKL Tak Bisa Menjauh dari Monas, Bertahan di Bawah Bayang RaziaKepala UPK Monas, Muhammad Isa Sanuri, menegaskan bahwa seluruh aktivitas perdagangan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan Monas bagaimana pun bentuknya.“Pedagang asongan atau PKL itu tidak ada yang masuk ke dalam kawasan Monas karena tidak diperbolehkan. Sesuai ketentuan, tidak boleh ada transaksi jual beli,” kata Isa kepada Kompas.com, Kamis .Namun, area luar pintu masuk, termasuk jalur menuju IRTI, menjadi titik rawan. Banyak pedagang duduk di pinggir pot, papan beton, hingga menempel di pagar luar Monas./Lidia Pratama Febrian Wajah Monas di Mata Wisatawan: Ramai, Indah, namun Dipenuhi PKL LiarSaat ditanya mengenai apakah area pintu IRTI diperbolehkan menjadi lokasi berdagang, Isa kembali menegaskan.“Kecuali di area Lenggang Jakarta. Itu pun pedagangnya di bawah pembinaan Dinas PPUMKM,” ujarnya.Artinya, seluruh titik sebelum kawasan Lenggang Jakarta tetap termasuk area yang tidak diperbolehkan bagi pedagang informal.Mengenai koordinasi dengan Satpol PP, Isa menyebut hal itu dilakukan rutin.“Sering. Kami koordinasi dengan Manpol Kecamatan Gambir,” kata dia singkat.Baca juga: Di Balik Keindahan Monas, PKL Bertahan Hidup Sambil Terus Kucing-kucinganMeski begitu, aktivitas pedagang masih terjadi setiap hari. Penertiban dilakukan, namun gejalanya selalu kembali.Fenomena ini memperlihatkan kondisi klasik penataan ruang publik Jakarta pedagang berpindah, bukan hilang.Riwayat ketegangan antara PKL dan aparat terlihat jelas pada Rabu, 2 Juli 2025, di Pintu Pertamina Monas.Penertiban petugas gabungan dari Kecamatan Gambir dan Kelurahan Petojo Selatan sempat memicu aksi saling dorong antara petugas dan pedagang yang menolak ditertibkan.Kepala Satpol PP Kota Administrasi Jakarta Pusat yang saat itu masih menjabat, Tumbur Parluhutan Purba, menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan adalah penghalauan biasa.“Hanya penghalauan dan penggebahan kemarin. Ada sedikit cekcok mulut saja dengan PKL. Karena sudah dihalau dan digebah tapi tidak mengindahkan petugas Satpol PP Kecamatan Gambir,” kata Tumbur.Baca juga: Trotoar dan Shelter Ojol Bakal Hadir di Stasiun Depok Lama Usai PKL DitertibkanIa menambahkan bahwa keberadaan PKL di sekitar Monas memang sulit dihilangkan.“Kalau PKL tetap saja ada. Tugas Satpol melakukan sterilisasi di Pintu Pertamina semaksimal mungkin dan selalu dijaga secara stasioner dan mobile,” ujar dia.Keterangan ini menjelaskan salah satu akar masalah Monas sebagai ruang wisata utama memiliki arus manusia besar sepanjang hari, menjadikannya lokasi yang ‘menggiurkan’ bagi pedagang kecil bahkan saat razia intensif berlangsung.
(prf/ega)
PKL Monas Tak Pernah Pergi meski Ditertibkan Berkali-kali
2026-01-12 04:22:05
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:17
| 2026-01-12 04:17
| 2026-01-12 02:52
| 2026-01-12 02:16
| 2026-01-12 02:16










































