Hati-hati Lihat Influencer WHV Australia, Realita Kadang Tak Seindah Konten Medsos

2026-01-11 03:26:52
Hati-hati Lihat Influencer WHV Australia, Realita Kadang Tak Seindah Konten Medsos
PERTH, - Catherine, yang dulunya bekerja sebagai apoteker di Indonesia, melihat peluang untuk bekerja di Australia dengan menggunakan Work and Holiday Visa (WHV).Sebelum tiba di Perth, ia sempat melihat beberapa konten di TikTok dan Instagram yang menggambarkan kehidupan di Australia."Terlihatnya gampang dalam kerja satu tahun bisa mengumpulkan 1 miliar rupiah," katanya.Baca juga: Sejumlah WNI Peserta WHV Tewas Kecelakaan di Australia, Muncul Seruan Ubah Aturan"Kayak, 'Wow, kita kerja di Indonesia butuh waktu bertahun-tahun ya untuk bisa mengumpulkan segitu'."DOK CATHERINE via ABC INDONESIA Catherine memiliki harapan besar untuk bekerja di Australia setelah melihat konten di media sosial.Catherine datang ke Australia karena ingin memperbaiki kondisi keuangannya, sekaligus merasakan hidup di luar negeri.Ia mengaku harapannya ini tidak lepas dari narasi yang dibangun para peserta WHV yang membuat konten.Tapi apa yang dirasakannya tidak sesuai harapan, ketika ia tiba di Perth awal tahun lalu.Setelah tiba di Australia, Catherine bekerja sebagai cleaner yang tugasnya bersih-bersih, sebelum bekerja di bidang housekeeping dan retail.Ia mengaku melakukan dua pekerjaan sekaligus bisa sangat melelahkan secara fisik dan mental."Apakah possible kamu dapat 1 miliar? Possible, tapi banyak hal yang kamu harus kamu kurangin, yang kamu tahan, dan kamu korbankan," katanya."Pastinya (harus punya) lebih dari satu (pekerjaan), dan ... Kamu bisa mengumpulkan segitu, tapi tubuh kita secara natural itu kan butuh istirahat ya?"ABC INDONESIA Sebagian besar konten yang dibuat oleh influencer WHV Indonesia menyebutkan uang yang bisa didapatkan dengan bekerja di Australia.Tidak hanya Catherine, konten para influencer WHV yang menawarkan mimpi gaji besar dan kehidupan yang lebih baik di Australia turut memikat warga Indonesia lainnya.Dengan konsep A Day in My Life, para peserta WHV merekam diri mereka sendiri bekerja di perkebunan, atau di pabrik daging dan supermarket, sambil mengatakan pekerjaannya mudah dan ada pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan berbahasa Inggris.Namun, kebanyakan orang yang berharap hidupnya bisa seperti konten media sosial tersebut baru menyadari beban kerja yang berat dan biaya hidup yang tinggi di Australia setelah mereka tiba.Tidak jarang, peserta WHV juga harus bekerja di tempat dengan risiko tinggi, hingga mengalami cedera saat bekerja di sektor-sektor penting di Australia, termasuk pabrik daging.ABC juga menemukan setidaknya sembilan peserta WHV asal Indonesia meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju atau pulang kerja dalam beberapa tahun terakhir.Baca juga: Cerita WNI Kecelakaan Kerja di Australia, Risiko Peserta WHV Lebih BesarKonten-konten yang dibuat WHV juga membuat mereka yang ingin ikut mendaftar jadi terpikir untuk melakukan apa pun agar bisa ke Australia, hingga menjerumuskan mereka dalam situasi yang sulit.Anwar Ibrahim sangat ingin bekerja di Australia setelah melihat konten besaran gaji yang bisa disebutkan para influencer WHV.Ia berharap bisa ke Australia untuk membantu membiayai keluarganya dan menabung untuk masa depan."Alasan (ingin ke Australia karena) melihat beberapa influencer yang sudah di sana memperlihatkan bagaimana keindahan, kemudian dengan gaji yang besar, kemudian kehidupan yang nyaman dan tentram mungkin yang kita lihat di Australia," katanya.DOK ANWAR IBRAHIM via ABC INDONESIA Anwar Ibrahim sangat ingin bekerja di Australia dengan WHV, tetapi akhirnya menjadi korban penipuan.Untuk mendapatkan WHV, peminat harus menyertakan Surat Dukungan untuk Work and Holiday Visa (SDUWHV) dari Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia.Anwar sudah mencoba untuk mendapatkannya sendiri, tetapi gagal.Oleh karena putus asa, ia meminta bantuan seseorang yang mengaku memiliki koneksi dengan Ditjen Imigrasi dan mengeluarkan biaya Rp 45 juta.Anwar meminjam uang dari orangtuanya yang menggadaikan sawah mereka untuk membantunya mengejar mimpinya.Namun, ia mengaku sadar merasa ditipu karena yang diberikan kepadanya malahan dokumen palsu.Karena ia melampirkan surat palsu dalam permohonan visanya, ia ditolak dan kini ia menghadapi perjuangan berat untuk pindah ke Australia.


(prf/ega)