Panti Jompo hingga Muncungmu dalam "Agak Laen 2"

2026-01-12 07:31:57
Panti Jompo hingga Muncungmu dalam
MESKI hidup berbangsa dan bermasyarakat hari-hari ini dipenuhi kepedihan karena bencana dan keseharianan sebagai rakyat dengan multidimensi persoalan, saya memilih menutup tahun 2025 dengan catatan yang tampak ringan—merujuk film "Agak Laen 2: Menyala Pantiku".Pilihan ini berangkat dari alasan personal sekaligus politis.Saya orang Batak yang lahir di tepi Sungai Mempawah, Kabupaten Pontianak. Sejak remaja hingga dewasa menetap di Jakarta, bergaul dengan kawan-kawan dari Betawi, Jawa, Sunda, Padang, Manado, Melayu, Bugis dan Tionghoa. Bahasa Batak jarang saya gunakan dalam keseharian, bahkan di rumah.Namun, ketika menonton Agak Laen 2, saya justru merasa sangat related. Intonasi bicara, umpatan, dan ritme bercanda khas Batak yang terselip dalam dialog film itu membuka pintu ingatan, khususnya saat remaja berada di Pasar Inpres Senen yang dekat dengan almamater SMA saya di SMA Negeri 1 Budi Utomo Jakarta.Bahasa, rupanya, menyimpan memori kolektif yang tidak bisa sepenuhnya dipadamkan oleh mobilitas sosial.Salah satu adegan yang membekas dari film tersebut terjadi di teras pengadilan. Boris Bokir, berperan sebagai polisi yang tengah menghadapi perceraian, berdalih kepada putrinya bahwa ia harus pergi lama demi mengejar penjahat.Sang anak merajuk dan dengan polos, tapi menusuk menyela, “Kenapa enggak Om Oki aja, Pah, yang kejar? Kan Om Oki serem mukanya.”Baca juga: Menua Tanpa PetaOki Rengga—dengan wajah bopeng yang kerap dijadikan bahan bercanda—bergumam setengah tersinggung, “Tajam juga muncung anakmu, ya.”Studio bioskop pun pecah oleh gelak tawa. Bagi saya, momen itu terasa sangat “kena”. Kata muncung—yang berarti mulut—adalah kosakata khas pergaulan anak muda di Sumatera Utara atau dikenal sebagai anak Medan termasuk orang Batak.Ia terasa lebih hidup ketimbang penanda identitas Batak yang telah menjadi klise seperti kata bah atau sapaan horas.Muncungmu bukan sekadar kata. Ia adalah ekspresi sosial: ejekan akrab, sindiran ringan, sekaligus penanda kedekatan yang cair sebagaimana penyebutan kata Kau.Seperti orang Minang atau Bugis, orang Batak dikenal sebagai perantau. Anakhon hi do hamoraon di ahu—anak adalah kekayaan orang tua—menjadi filosofi yang mendorong keluarga mengorbankan banyak hal demi pendidikan anak.Ada yang berhasil, tak sedikit pula yang gagal. Mereka yang kurang beruntung bertahan hidup dengan aneka perjuangan dan kerja keras.Dalam konteks itu muncul pula istilah yang mendekati stigma yang menyebutkan orang Batak itu sebagai RAUL (Raja Ulok, jago bacot) atau RAOL (Raja Olah, jago mengolah apa saja). Namun ternyata pada realitasnya banyak juga orang Batak sukses yang jagoan Raul dan Raol.Ironisnya, banyak kampung Batak tetap terjebak dalam kemiskinan struktural. Kesuksesan individual jarang bertransformasi menjadi kemajuan kolektif—berbeda dengan, misalnya, komunitas Minang yang relatif lebih berhasil membangun jejaring ekonomi bersama di perantauan demi kemajuan kampuang nan jauh di mato.


(prf/ega)