Kapolri Targetkan Siswa SMA Binaan Polri Ada yang Masuk Harvard, Bikin Pusing Jenderal Ini

2026-01-12 22:37:41
Kapolri Targetkan Siswa SMA Binaan Polri Ada yang Masuk Harvard, Bikin Pusing Jenderal Ini
JAKARTA, - Asisten SDM Kapolri Irjen Anwar mengatakan, dirinya langsung pusing begitu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meminta agar harus ada siswa SMA Kemala Bhayangkari (KTB) yang masuk Harvard University, Amerika Serikat.Namun, Anwar menyebut SMA binaan Polri tersebut memang diproyeksikan mencetak generasi terbaik polisi."Lulusannya diproyeksikan masuk di top 10 universitas terbaik di dunia dan aset untuk menjadi regenerasi di kepolisian. Kira-kira seperti itu. Bahkan kemarin Bapak Kapolri menargetkan harus ada yang di Harvard. Sehingga saya selaku Kepala Yayasan Kemala Bhayangkari, alhamdulillah sampai sekarang sudah pusing. Tapi insyaallah dengan niat yang tulus, insyaallah akan tercapai," ujar Anwar dalam Rilis Akhir Tahun 2025 Polri di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa .Baca juga: Polri Minta Pengunjuk Rasa Hormati Polisi: Kami Bukan PenghalangAnwar menceritakan, untuk tahun 2026, sudah ada 17.000 siswa yang mendaftar masuk SMA KTB.Padahal, SMA KTB hanya menerima 180 siswa saja.Dia pun menyoroti para pendaftar yang memiliki nilai rata-rata sangat baik.Jika Anwar harus mendaftar masuk SMA tersebut, dia sendiri meyakini tidak lulus."Perlu kami informasikan bahwa dari total pendaftar yang sekarang ini dari 17.000 lebih, itu nilai rata-rata matematikanya 87,8. Nilai rata-rata IPA-nya 88. Nilai Bahasa Inggris-nya 88. Dan nilai IQ-nya 130, ini rata-rata. Insyaallah kalau saya sekarang ikut, saya tidak akan masuk di sini barangkali. Saya harus jujur hahaha," jelasnya.Baca juga: Polri Siap Tambah Personel untuk Bantu Pembangunan Huntara dan Huntap di SumateraSementara itu, Anwar membeberkan bahwa siswa SMA KTB mendapat beasiswa penuh dari Polri.Dia turut memamerkan SMA KTB yang memiliki kurikulum di atas SMA, tapi di bawah perkuliahan."Kemudian yang ketiga adalah kurikulumnya adalah International Baccalaureate atau IB Diploma. Jadi IB Diploma itu SMA lebih, kuliah hampir, kira-kira seperti itu," imbuh Anwar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-12 22:53