Kisah Atika Suneth, Ibu Tunggal Pedagang Ubi yang Sukses Antarkan 3 Anaknya Raih Gelar Sarjana

2026-01-12 04:45:57
Kisah Atika Suneth, Ibu Tunggal Pedagang Ubi yang Sukses Antarkan 3 Anaknya Raih Gelar Sarjana
AMBON, - Mentari belum juga menyinari bumi saat Atika Suneth memulai aktivitas kesehariannya di Pasar Mardika Ambon, Maluku.Sebelum ayam berkokok, ibu tunggal berusia 68 tahun ini sudah harus bergegas meninggalkan kampungnya di Desa Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah menuju Kota Ambon untuk mencari rezeki.Sebagai pedagang kecil yang hanya menjajakan umbi-umbian di samping emperan pasar, Atika sadar betul bahwa waktu adalah segalanya.Karena itulah, di saat banyak orang seusianya masih terlelap dalam mimpi yang panjang, Atika sudah harus bangun dari tidurnya sambil mempersiapkan diri untuk bertaruh nasib demi sesuap nasi.“Saya dari kampung di Wakal itu biasanya jam 4 subuh, jam 5 itu sudah ada di sini, nanti jualan sampai 6 sore baru pulang,” kata Atika saat ditemui Kompas.com di lapak sederhana tempatnya berjualan di Pasar Mardika Ambon, Maluku, Sabtu .Baca juga: Kisah Ma Ina, Ibu Penjual Gorengan di Gorontalo yang Sukses Antarkan Anak jadi SarjanaAtika berjualan berbagai jenis umbi seperti ubi jalar, keladi, pisang dan singkong. Pangan lokal itu didapatnya dari pedagang pemborong yang biasanya membeli langsung dari petani di Pulau Seram.Setiap hari sejak pagi buta, pemborong biasanya telah membawa berbagai jenis kebutuhan pangan dengan mobil truk ke Pasar Mardika untuk dijual ke mama-mama pedagang kecil atau yang dikenal dengan sebutan papalele.Setelah terjadi tawar menawar harga, Atika dan pedagang kecil lainnya lalu membeli dari pemborong dan menjualnya lagi ke pengunjung di pasar.“Kita beli dari pemborong lalu jual lagi setumpuk kecil Rp 20.000, kalau yang agak banyak Rp 50.000,” ujarnya.Baca juga: Kisah Ibu Hamil Muda yang Sempat Tidur di SPBU, Kini Bangkit Lewat Jualan PentolArika mulai berjualan umbi-umbian di Pasar Mardika Ambon sejak 20 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 2005.Dia memutuskan untuk berjualan di Pasar Mardika setelah suaminya tercinta Ibrahim Mahu meninggal dunia pada Tahun 2000 silam. Sebelumnya, Atika hanya menjual kue di kampung untuk menghidupi keluarganya.Kepergian sang suami untuk selama-lamanya, membuat Atika harus memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga. Dia harus rela banting tulang demi menghidupi empat orang anaknya yang saat itu masih kecil.“Sebelumnya hanya jual kue di kampung. Lalu, suatu waktu saya berfikir kalau saya tidak memilih berjualan seperti ini saya mau kasih makan dan hidupi keluarga bagaimana,” ujarnya.Baca juga: Kisah Sani, Perjuangan Ibu Muda Musisi dari Lombok Bernyanyi Sambil Gendong AnakMeski hanya sebagai seorang pedagang kecil dan hanya mengenyam pendidikan di sekolah dasar, namun Atika punya mimpi yang sangat besar untuk masa depan keempat anaknya.Sejak ditinggal pergi oleh suaminya, Atika telah berniat dalam hati akan mencurahkan dirinya untuk memastikan keempat anaknya tumbuh dengan baik dan kelak menjadi orang yang berguna.


(prf/ega)