JAKARTA, - Harga Bitcoin (BTC) kembali bergejolak. Investor diminta tetap waspada di tengah tren koreksi yang menekan pasar kripto sepanjang sepekan terakhir.Bitcoin sempat jatuh dari rekor tertinggi di atas 125.000 dollar AS pada awal Oktober menjadi di bawah 90.000 dollar AS pada pertengahan November.Berdasarkan data Coinmarketcap pukul 15.56 WIB, harga Bitcoin naik tipis 0,21 persen dalam 24 jam terakhir dan berada di 91.812,91 dollar AS atau setara Rp 1,53 miliar dengan kurs Rp 16.739 per dollar AS. Meski begitu, harga Bitcoin sudah turun 11 persen dalam sepekan.Baca juga: Harga Bitcoin Sempat Anjlok, Indodax: Fundamental Kripto Masih KuatAnalis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kondisi pasar masih rentan. Volatilitas tinggi, likuidasi besar, dan sinyal teknikal bearish membuat investor perlu berhati-hati.“Oleh karena itu, investor perlu mengutamakan manajemen risiko dan tidak terburu-buru menambah eksposur hanya karena harga terlihat lebih rendah,” ujarnya, Kamis .Ia menyebut area 89.000–91.000 dollar AS sebagai level support yang penting diamati. Strategi dollar-cost averaging (DCA) dinilai cocok untuk investor jangka panjang.Untuk trader jangka pendek, Fyqieh menekankan disiplin stop-loss dan menghindari leverage tinggi. Struktur pasar yang masih bearish berpotensi memunculkan fake bounce.Analis CryptoWatch.id, Christopher Tahir, menyampaikan pandangan serupa. Ia menyebut DCA relevan untuk investor jangka panjang.“Kalau untuk yang jangka pendek, mungkin ada baiknya trading sesuai trennya,” kata dia.Baca juga: Tren Penurunan Harga Bitcoin Dipengaruhi Aksi Ambil Untung, Berlanjut Sampai Akhir Tahun?Christopher menilai minimnya katalis membuat aset kripto bergerak turun. Ia menyebut peluang pemangkasan suku bunga AS yang merosot menjadi salah satu pemicu.Fyqieh menambahkan aksi jual dari pemegang Bitcoin jangka panjang memicu tekanan besar. Data on-chain menunjukkan banyak holder memindahkan BTC ke bursa untuk dijual setelah kenaikan 70 persen sejak April.Ia menyebut penurunan di bawah level psikologis 100.000 dollar AS memicu panic selling dan stop-loss beruntun.Sentimen risk-off global juga menekan pasar. Harapan pelonggaran kebijakan The Fed melemah. Imbal hasil obligasi AS masih tinggi dan dolar AS menguat.“Karena situasi ini biasanya kurang kondusif untuk investasi berisiko,” kata Fyqieh.
(prf/ega)
Tren Koreksi Harga Bitcoin, Apa yang Perlu Dilakukan Investor?
2026-01-11 22:34:11
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:51
| 2026-01-11 21:28
| 2026-01-11 21:15
| 2026-01-11 20:19










































