HARI Pahlawan tahun ini menghadirkan pemandangan yang sukar dibayangkan. Di Istana Negara, potret sepuluh tokoh bangsa berjajar rapi, dibingkai seragam, diberi hiasan emas di tepiannya, dan disusun sejajar di dinding upacara.Di antara wajah-wajah itu, ada dua nama yang membuat orang berhenti sejenak: Marsinah dan Soeharto.Mereka berdiri dalam satu deret sejarah. Dalam satu upacara penghormatan. Dalam satu keputusan negara yang menobatkan keduanya sebagai Pahlawan Nasional.Ironi yang halus terasa menembus upacara yang khidmat itu. Sebab di balik segala seremoni, di balik musik orkestra dan sambutan resmi, tersimpan satu pertanyaan yang menggantung di benak banyak orang.Apa arti kepahlawanan ketika korban dan penguasa yang menindasnya kini diperingati bersama?Marsinah adalah buruh perempuan dari Porong, Sidoarjo. Ia bekerja di pabrik arloji dan dikenal berani menyuarakan nasib rekan-rekannya.Baca juga: Soeharto dan Ujian Ingatan BangsaTahun 1993, ketika sebagian besar orang memilih diam, ia berdiri di depan gerbang pabrik menuntut keadilan.Upah layak, jam kerja manusiawi, dan perlakuan adil. Tiga hal sederhana yang mestinya tidak membuat seseorang kehilangan nyawa.Namun, tubuh Marsinah ditemukan beberapa hari kemudian, di sebuah gubuk di hutan Nganjuk. Lebam di wajah, luka di pergelangan, dan tulang rusuk patah. Ia dibungkam oleh kekuasaan yang alergi terhadap perbedaan pendapat.Dua puluh tahun kemudian, nama Marsinah muncul di podium negara. Kali ini bukan sebagai buruh yang dibungkam, melainkan sebagai pahlawan yang diakui.Negara yang dulu menutup telinga kini mengucapkan terima kasih. Sejarah kadang memang memiliki selera humor yang pahit.Soeharto berbeda kisah. Ia muncul dari rahim sejarah yang sama, tetapi berjalan di jalur kekuasaan.Setelah 1965, ia naik ke tampuk pemerintahan, mengendalikan negara selama lebih dari tiga dasawarsa.Ia membangun jalan, waduk, dan program pertanian yang membawa Indonesia ke masa stabilitas. Ia juga membangun ketakutan yang membuat rakyat belajar untuk tidak berbicara terlalu keras.Di masa pemerintahannya, ribuan aktivis ditangkap, pers dikontrol, dan oposisi dimatikan. Marsinah hidup dan mati dalam ruang yang diciptakan oleh sistem itu.
(prf/ega)
Ketika Marsinah dan Soeharto di Bingkai yang Sama
2026-01-12 06:32:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:44
| 2026-01-12 06:06
| 2026-01-12 06:06
| 2026-01-12 05:12










































