- Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan. Salah satu dosen menjadi korban banjir bandang di Sumatera Barat.Dosen ini bernama Roni Saputra (42), dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatra Barat. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari Rumah Sakit M. Jamil Padang menuju rumah duka. Sementara itu, satu anaknya hingga kini masih dinyatakan hilang.Ketua PWNU Sumatra Barat, Ganefri, menyampaikan kabar duka ini.“Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sumbar Jurusan Sistem Informasi meninggal dunia, dan satu orang anaknya masih belum ditemukan,” dilansir dari laman NU Online, Minggu .Baca juga: Analisis Pakar ITB soal Penyebab Banjir Besar di Pulau SumateraDalam kondisi bencana alam ini, ia mengatakan Tim NU Peduli dari unsur PCNU dan PWNU Sumbar bergerak cepat membantu masyarakat terdampak bencana longsor dan banjir bandang melalui penyaluran logistik, pendataan, pendirian posko, distribusi kebutuhan pokok, koordinasi komunitas, serta pendampingan bagi para pengungsi.“Selain itu, kader-kader Nahdlatul Ulama juga membantu mengevakuasi korban yang terjebak di lokasi bencana di Sumbar, terutama pada titik longsor dan banjir bandang,” ujar Ganefri.Bencana alam yang menjadi sorotan saat ini adalah banjir yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.Saat ini masing-masing provinsi sudah menetapkan status tanggap darurat bencana.Ganefri ikut menjelaskan jika banjir bandang dan longsor dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari di kawasan pegunungan dan hilir.“Akibatnya, aliran air tidak mampu menampung volume hujan sehingga memicu aliran deras bercampur tanah, lumpur, dan material longsor,” terangnya.Ia menambahkan, tanah yang menjadi labil akibat hujan deras, terutama di wilayah rawan longsor, memudahkan terjadinya pergerakan tanah.“Kombinasi antara curah hujan tinggi, topografi pegunungan, serta aliran sungai atau lereng membuat wilayah Sumbar sangat rentan terhadap banjir bandang dan longsor, terutama saat musim hujan,” imbuhnya.Baca juga: Kisah Piyan, Anak Tukang Ojek Lolos Beasiswa LPDP dan Kerja di PertambanganSementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis perkembangan terbaru penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera.ANTARA FOTO/Yudi Manar Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu . Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir bandang pada Selasa . Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa total sementara 174 jiwa meninggal dunia, 79 orang hilang, dan 12 mengalami luka-luka di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.Hal itu disampaikannya saat konferensi pers di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Jumat .Baca juga: 37 Sekolah di Aceh Barat Diliburkan Akibat Bencana BanjirSumatera Utara menjadi provinsi dengan jumlah korban terbanyak. Data sementara mencatat 116 korban jiwa dan 42 orang hilang, tersebar di beberapa wilayah seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Humbang Hasundutan, Padang Sidempuan, dan Pakpak Barat.“Per hari ini kami mendata korban meninggal dunia 116 dan 42 masih dalam pencarian. Tentu saja data ini akan berkembang terus masih ada titik-titik yang belum ditembus. Yang diindikasikan di lokasi longsor itu mungkin juga ada korban jiwa,” ujar Suharyanto, dilansir dari Kompas.com pada Sabtu .
(prf/ega)
Dosen Kampus NU Roni Saputra Meninggal, Jadi Korban Banjir Sumatera
2026-01-12 05:51:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:01
| 2026-01-12 05:24
| 2026-01-12 03:57
| 2026-01-12 03:55
| 2026-01-12 03:49










































