2026: Tahun Milik Rakyat

2026-01-14 05:45:50
2026: Tahun Milik Rakyat
TAHUN 2026 tampaknya perlu kita persembahkan sebagai tahun milik rakyat. Ketegangan elektoral telah berlalu dan kalender politik berikutnya masih menyisakan cukup waktu, sekitar dua tahunan.Dalam masa jeda inilah negara memiliki kesempatan cukup luang memusatkan energi untuk melayani rakyat. Tahun 2026, rakyat harus menikmati layanan negara yang terasa dan bermakna, lebih banyak dibanding para elite.Di tahun milik rakyat ini, negara tidak dituntut menjadi sempurna—sebab kesempurnaan bukan sifat institusi manusia—melainkan hadir, responsif, dan dapat diandalkan.Layanan kesehatan tidak berbelit, pendidikan tidak timpang, birokrasi tidak memeras kesabaran, dan hukum benar-benar bekerja.Boleh saja negara memiliki keterbatasan fiskal dan struktural, tetapi tidak boleh memiliki keterbatasan itikad. Ketidakmampuan teknis masih dapat dimaklumi, tapi ketiadaan itikad maka “tiada maaf bagimu”.Di tahun milik rakyat, keberhasilan negara diukur dari hal-hal yang kerap dianggap sepele, tapi sesungguhnya politis. Antrean layanan yang lebih singkat, keputusan lebih cepat, aparat lebih manusiawi, dan kebijakan yang lebih masuk akal.Yang saya maksud dengan kebijakan masuk akal adalah kebijakan yang logikanya jelas, tujuannya terukur, instrumennya tepat, dan dampaknya realistis. Bisa saja kebijakan sederhana yang jujur membaca kenyataan.Baca juga: Republik Alergi DiskusiTahun milik rakyat adalah momen bagi negara untuk mengumpulkan modal kepercayaan melalui kerja hari ini, bukan melalui janji masa depan. Kepercayaan tidak lahir dari kesempurnaan, melainkan dari niat baik yang dijalankan secara istiqamah.Ketika negara mampu melayani dengan sungguh-sungguh di tahun milik rakyat ini, maka hakikatnya sedang menyiapkan fondasi legitimasi yang kokoh. Tidak perlu ribut mencari legitimasi dengan memancing kontroversi atau pencitraan. Bukan saatnya untuk itu.Psikologis rakyat sedang muak dengan semua hiruk-pikuk simbolik yang bising tetapi hampa. Mereka sedang menghadapi realitas yang menekan.Mereka berhadapan dengan bencana yang datang silih berganti, harga yang merangkak tanpa kompromi, dan kebutuhan harian yang semakin berat dijangkau oleh penghasilan mereka.Dalam situasi seperti itu, rakyat tidak menuntut negara untuk pandai berbicara, melainkan mampu bekerja. Mereka tidak sedang mencari figur, tetapi kehadiran. Yang mereka butuhkan bukan slogan, melainkan solusi.Rakyat sedang berada di fase kelelahan kolektif. Empati lebih berharga bagi mereka daripada retorika.Di tahun milik rakyat, negara dituntut menurunkan volume retorika pencitraan (over branding) dan menaikkan kualitas kinerja. Aparat negara tidak perlu tampil heroik, cukup efektif dan manusiawi. Kebijakan tidak perlu spektakuler, cukup tepat sasaran dan konsisten.Dalam situasi masyarakat yang sedang letih, harga-harga kebutuhan terkendali, bantuan yang tepat waktu, layanan tidak mempersulit lebih meyakinkan daripada janji besar yang diulang-ulang.


(prf/ega)