Warga Adat Sentani Unjuk Rasa, Desak Pencopotan Direktur RS Yowari Jayapura

2026-01-11 23:32:51
Warga Adat Sentani Unjuk Rasa, Desak Pencopotan Direktur RS Yowari Jayapura
JAYAPURA, - Warga adat Sentani yang tergabung dalam Aliansi Sentani Bersatu Sejahtera (ASBS) menggelar aksi demo damai di Kantor DPRK Kabupaten Jayapura pada Selasa .Aksi unjuk rasa ini digelar sebagai ekspresi duka dan protes atas buruknya pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Jayapura yang menyebabkan pasien atas nama Irine Sokoy dan sang bayi meninggal dunia.Dalam orasinya, para pendemo menyuarakan, tragedi yang menimpa Irene Sokoy merupakan bukti kegagalan manajemen RSUD Yowari dalam menangani kegawatdaruratan ibu hamil.Baca juga: Kasus Ibu dan Bayi Meninggal Jadi Pembelajaran untuk RSUD YowariUntuk itu, Massa mendesak pencopotan Direktur RSUD Yowari yang dinilai bertanggung jawab atas lemahnya pelayanan dan koordinasi medis saat Irene membutuhkan pertolongan.“Tuntutan kami yang pertama terkait dengan manajemen pelayanan RS Yowari harus diperbaiki dan secara khusus mengutamakan keselamatan manusia.""Karena kami melihat RSUD Yowari seperti kantor pencari kerja, bukan melayani manusia tetapi harus ada surat lengkap dulu baru dilayani, akibatnya anak kami harus meninggal.”Demikian kata Ketua ASBS, John Maurits Suebu usai demo di Kantor DPRK Jayapura.Selain itu, pendemo juga meminta Pemerintah meningkatkan fasilitas kesehatan dan menambah jumlah dokter spesialis di rumah sakit daerah agar kejadian serupa tidak terulang.Baca juga: Insiden Ibu dan Bayi Meninggal, Pemkab Jayapura Gratiskan Melahirkan di RSUD Yowari“Yang berikut, kami meminta agar Pemda Kabupaten Jayapura untuk mengadakan dokter spesialis sebanyak mungkin, agar tidak terjadi kekurangan atau kekosongan,” ujar dia.Massa pendemo menuntut adanya denda adat yang harus dibayarkan oleh pihak Direktur RSUD Yowari kepada keluarga Irene sebagai bentuk pertanggungjawaban dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat Sentani.“Kami juga meminta DPRK Jayapura segera memanggil pihak rumah sakit, dinas kesehatan dan pemerintah daerah untuk rapat dengar pendapat, guna memastikan kasus ini ditangani secara transparan dan tuntas,” ungkap John.Menanggapi aspirasi masyarakat, Ketua DPRK Jayapura, Rudy Bukanaung mengatakan, pihaknya melalui Komisi C yang membidangi kesehatan sudah memanggil pihak terkait untuk rapat dengan pendapat.Baca juga: Polisi Bantah Kabar Penyerangan RSUD Yowari Jayapura, Foto Hasil Rekayasa AIIa juga berjanji, hasil dari rapat itu nantinya akan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.“Saya mengikuti bahwa kejadian ini sudah menjadi atensi dari Gubernur Papua maupun Bupati Jayapura.""Secara kelembagaan, hari ini Komisi C sudah mengandakan RDP dengan stakeholder atau para terkait untuk mendengar langsung penyebab korban meninggal dunia,” ujar dia.Kasus ini bermula ketika Irene Sokoy mulai merasakan kontraksi pada Minggu dan dibawa ke RSUD Yowari.Berdasarkan keterangan keluarga, pelayanan di rumah sakit tersebut sangat lambat dan tidak ada dokter kandungan saat itu.Baca juga: Ini Klarifikasi Resmi RS Bhayangkara terkait Pasien Ibu Hamil yang Meninggal Saat Dirujuk dari RSUD Yowari JayapuraSetelah menunggu lama, keluarga membawa Irene ke beberapa rumah sakit lain di Kota Jayapura, namun pihak RS menolak dengan berbagai alasan, mulai dari ruang penuh, ketiadaan dokter hingga permintaan uang muka.Kondisi Irene memburuk dalam perjalanan saat hendak dibawa ke RSUD Dok II Jayapura, ia mengalami kejang dan akhirnya dinyatakan meninggal bersama bayinya, Senin sekitar pukul 04.30 WIT.


(prf/ega)