Shutdown AS Berakhir, tapi Bitcoin Masih Sulit Lepas dari Tekanan

2026-01-12 06:50:04
Shutdown AS Berakhir, tapi Bitcoin Masih Sulit Lepas dari Tekanan
JAKARTA, — Setelah 43 hari penuh ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya menandatangani rancangan undang-undang pendanaan yang mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah. Namun, berakhirnya kebuntuan fiskal ini belum cukup menggerakkan pasar kripto.Bitcoin (BTC) hanya mencatat kenaikan tipis ke kisaran 102.400 dollar AS atau sekitar Rp 1,69 miliar (kurs Rp 16.500 per dollar AS), naik sekitar satu persen dalam 24 jam terakhir. Namun, harga aset digital itu belum mampu menembus level psikologis di atas 106.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,75 miliar.Sementara itu, Ethereum (ETH) naik dua persen ke 3.450 dollar AS, dan XRP menguat empat persen ke 2,44 dollar AS.Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kenaikan tersebut masih bersifat teknikal.“Rebound Bitcoin kali ini lebih seperti dead cat bounce, yakni kenaikan sesaat setelah tekanan jual besar. Sentimen global memang mulai pulih setelah shutdown AS berakhir, tetapi kekuatan fundamental Bitcoin belum cukup kuat untuk menembus resistensi di atas 106.000 dollar AS,” ujar Fyqieh di Jakarta, melalui keterangannya, Kamis .Baca juga: Bitcoin Kembali Turun Dekati 100.000 Dollar AS, Ini Kata AnalisBerakhirnya shutdown membuat sejumlah lembaga penting seperti SEC dan CFTC kembali beroperasi. Artinya, proses persetujuan ETF spot Bitcoin yang sempat tertunda kini bisa dilanjutkan.Namun, menurut Fyqieh, efeknya tidak akan langsung terasa di pasar.“Investor masih menunggu kepastian dari SEC soal ETF kripto dan arah kebijakan fiskal AS ke depan. Dengan indeks dolar AS (DXY) yang terus menguat, banyak pelaku pasar justru menahan posisi di aset berisiko seperti Bitcoin,” katanya.Dolar AS yang menguat biasanya menekan minat terhadap aset alternatif seperti kripto. Berdasarkan data pasar, inflow ke ETF Bitcoin senilai 524 juta dollar AS (sekitar Rp 8,65 triliun) belum cukup mendorong harga naik signifikan.Baca juga: Demam Kripto Bergeser, dari Bitcoin ke Token Aneh Berisiko TinggiSelain faktor makroekonomi, pasar juga dibebani penjualan besar-besaran oleh pemegang Bitcoin jangka panjang. Sejumlah alamat dompet yang tidak aktif sejak 2018 dilaporkan mulai memindahkan aset mereka ke bursa seperti Kraken, termasuk transfer 1.800 BTC senilai lebih dari 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,3 triliun.“Ketika whale lama mulai menjual, biasanya mereka melihat risiko tertentu di depan. Bisa jadi karena isu quantum computing atau kekhawatiran terhadap keamanan jangka panjang jaringan Bitcoin,” kata Fyqieh.Menariknya, sebagian dana yang keluar dari Bitcoin justru mengalir ke privacy coin seperti Zcash (ZEC), Decred (DCR), dan Monero (XMR) yang naik 20–100 persen dalam sebulan terakhir.“Rotasi ke privacy coin menunjukkan investor mencari alternatif dengan privasi dan keamanan lebih tinggi. Ini sinyal bahwa pasar sedang mencari narasi baru di luar Bitcoin,” tambahnya.Baca juga: Aksi Hacker Retas Kripto Makin Marak, Investor Pilih Simpan Bitcoin ke Dompet Offline


(prf/ega)