Sumatera Darurat Biodiversitas, Habitat Gajah Diprediksi Menyusut 66 Persen

2026-01-12 05:01:48
Sumatera Darurat Biodiversitas, Habitat Gajah Diprediksi Menyusut 66 Persen
- Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia mengungkapkan Sumatera menjadi wilayah dengan angka penurunan biodiversitas tertinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.Menggunakan analisis Biodiversity Intactness Index (BII), peneliti menyebut Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi selama 2017 hingga 2020."Pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen. Sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen," ungkap Syartinilia dalam keterangannya, Rabu .Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap habitat spesies kunci yakni gajah, orangutan, dan harimau sumatera. Syartinilia menjelaskan, pada skenario bisnis habitat gajah diproyeksikan menurun hingga 66 persen.Baca juga: Cegah Kematian Gajah akibat Virus, Kemenhut Datangkan Dokter dari IndiaSedangkan pada skenario keberlanjutan berpotensi meningkatkan luasan habitat satwa dilindingi itu hingga 5 persen."Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” tutur dia.Mengacu pada analisi tersebut, Syartinilia merekomendasikan aksi adaptasi berupa restorasi terfokus, konservasi berbasis masyarakat, pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung, hingga investasi konservasi berskala besar dengan Pulau Sumatera sebagai wilayah prioritas.Di samping itu, akademisi IPB University turut mengkaji proyeksi ekosistem Indonesia dalam perspektif antropogenik dan perubahan iklim. Kajiannya menyoroti dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga 2050 mendatang sebagai dasar perumusan prioritas aksi adaptasi perubahan iklim.Syartinilia menyebut, risetnya menggunakan pendekatan multiskala dari tingkat nasional hingga pulau. Pada skala nasional, tim peneliti melakukan analisis antara keterpaparan iklim dengan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi.Dari dua variabel ini, disusun tingkat kerentanan lanskap dalam sembilan level.Baca juga: Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah“Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi,” ucap Syartinilia.Menurut dia, berdasarkan tipe ekosistem lahan basah dan ekosistem pegunungan merupakan dua tipe yang paling rentan secara nsional.“Secara spasial, Pulau Sumatera tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi, diikuti Papua, Kalimantan, dan Maluku,” imbuh dia.Dalam risetnya, peneliti menekankan bahwa perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia.Adanya kenaikan suhu, pergeseran pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta perubahan biodiversitas dinilia sebagai proses yang berkaitan.


(prf/ega)