Ruang Penurunan Bunga Kredit Menguat, Harapan Makin Terlihat

2026-01-12 03:48:53
Ruang Penurunan Bunga Kredit Menguat, Harapan Makin Terlihat
-Harapan penurunan suku bunga kredit tahun depan mulai terlihat kuat.Sejumlah kondisi memberi ruang lebih lebar bagi perbankan untuk menurunkan bunga pinjaman yang sempat tertahan sepanjang tahun ini.Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-rate) menjadi faktor utama. Dalam setahun terakhir, BI-rate sudah turun sekitar 125 basis poin.Ruang ini dinilai cukup besar meski penurunan bunga kredit masih bergerak lambat.Baca juga: OJK Dukung Polda Kaltim Usut Dugaan Korupsi 47 Kredit Fiktif Bank KaltimtaraInsentif likuiditas juga menguatkan peluang. Bank Indonesia memberikan insentif makroprudensial bagi penyaluran kredit ke segmen tertentu.Pemerintah ikut menambah ruang melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank pelat merah dan bank daerah.Ada pula insentif tambahan dari BI bagi bank yang menyesuaikan bunga kredit dengan arah BI-rate.Insentif paling tinggi setara 0,5 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) untuk mengurangi kewajiban penempatan Giro Wajib Minimum (GWM).Data terbaru menunjukkan bunga kredit perbankan turun 20 basis poin dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 9,00 persen pada Oktober.Laju ini lebih lambat dibanding 2019 ketika penurunan BI-rate 150 basis poin diikuti koreksi bunga kredit sekitar 90 basis poin.Baca juga: Wall Street Lanjutkan Kenaikan, Ditopang Ekspektasi The Fed Pangkas Suku Bunga Head of Macroeconomic & Financial Market Research Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, melihat transmisi saat ini memang lebih lambat. Diyu, sapaan Dian Ayu, menilai dua faktor bisa mempercepat penurunan bunga kredit pada 2026, yakni likuiditas dan persepsi pasar.Indeks keyakinan konsumen yang mulai pulih memberi sinyal positif. Perbankan dan pelaku usaha diperkirakan merespons perbaikan ini. Likuiditas juga diperkirakan membaik seiring masuknya tahun kedua pemerintahan baru.“Tahun depan juga dengan memasuki tahun kedua pemerintahan yang baru, harusnya juga realisasi fiskalnya bisa berjalan lebih cepat,” ujar Diyu.


(prf/ega)