Gudeg Bu Naryo Ambarawa: Cita Rasa Kayu Bakar Sejak Tahun 1960

2026-01-13 16:13:28
Gudeg Bu Naryo Ambarawa: Cita Rasa Kayu Bakar Sejak Tahun 1960
AMBARAWA, – Ambarawa tidak hanya dikenal dengan sejarah Perang Palagan, tetapi juga menyimpan berbagai kuliner jadul yang masih bertahan. Salah satunya adalah Gudeg Bu Naryo yang berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 16, Panjang Kidul, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.Di tengah gempuran restoran cepat saji, warung makan lawas ini tetap eksis menjaga cita rasa tempo dulu. Terletak di deretan gedung tua peninggalan kolonial, Gudeg Bu Naryo mempertahankan proses memasak tradisional untuk menjaga keaslian rasa.“Kalau gudeg di sini masih berwarna merah dan menggunakan tungku kayu bakar dalam proses memasaknya. Jadi rasanya beda ketimbang gudeg yang menggunakan kompor,” ucap pelayan warung, Sri Sumarsih (43), kepada Kompas.com, Senin .Baca juga: Itinerary 2 Hari 1 Malam di Yogyakarta, Jelajahi Budaya Kota GudegSri menjelaskan bahwa usaha ini dirintis oleh pasangan suami istri, Bu Naryo yang berasal dari Klaten dan Pak Naryo dari Yogyakarta, saat mereka merantau ke Ambarawa pada tahun 1960. Kini, usaha legendaris tersebut telah memasuki generasi kedua.Meski sudah hampir 65 tahun berdiri, Gudeg Bu Naryo tidak banyak mengubah variasi menu utama. Mereka menyajikan gudeg khas Jogja yang cenderung manis namun telah disesuaikan dengan lidah warga lokal Ambarawa.“Sejak saya bekerja di sini tahun 1995, rasanya masih sama. Sekarang ada variasi tambahan seperti nasi pecel, babat sapi, koyor, hingga botok telur asin,” ungkap Sri.Baca juga: Sejarah Gudeg, Kuliner Yogyakarta yang Sudah Ada Ratusan Tahun LaluUntuk urusan harga, warung ini masih sangat terjangkau. Sepiring nasi gudeg dibanderol mulai dari Rp 12.000 hingga Rp 20.000, tergantung lauk yang dipilih. Karena harganya yang ramah di kantong, warung ini sering disinggahi mahasiswa hingga wisatawan.Izlal (21), seorang mahasiswa asal Karawang, mengaku cocok dengan perpaduan rasa gudeg tersebut. “Rasanya tidak semanis gudeg Jogja aslinya, jadi lidah saya cocok. Saya tahu tempat ini dari media sosial dan ternyata tidak mengecewakan,” ujarnya.Meski harus bersaing dengan banyaknya pilihan tempat makan baru, Gudeg Bu Naryo tetap konsisten buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Untuk menyiasati persaingan, mereka juga menerima pesanan nasi boks untuk berbagai kegiatan syukuran warga.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Perubahan Anggaran Dasar dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN). Salah satu implikasi penting dari penyesuaian tersebut adalah perubahan nama perseroan, dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.Sementara itu, pelimpahan kewenangan persetujuan RKAP 2026 dan RJPP 2026-2030 kepada Dewan Komisaris dijalankan dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan seluruh keputusan RUPSLB merupakan bagian dari konsolidasi tata kelola perseroan agar semakin adaptif terhadap regulasi dan tantangan bisnis ke depan.Baca juga: Dana Rp 2,5 Miliar Digelontorkan, PGN Percepat Bantuan Banjir Aceh–Sumut“Penyesuaian yang disetujui pemegang saham bertujuan memastikan keselarasan anggaran dasar Perseroan dengan ketentuan regulasi yang berlaku, sekaligus memperkuat kejelasan peran, mekanisme pengambilan keputusan, dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Fajriyah.PGN menilai, langkah strategis yang diputuskan dalam RUPSLB ini mencerminkan komitmen kuat perusahaan dalam menjaga kepastian regulasi, memperkokoh struktur tata kelola, serta memastikan keberlanjutan kinerja jangka panjang. Upaya tersebut sejalan dengan mandat PGN sebagai subholding gas di bawah PT Pertamina (Persero), khususnya dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional.

| 2026-01-13 16:23