Khawatirkan Inflasi 2026, Indef Sebut Moneter Harus Dorong Sektor Rill

2026-01-11 15:18:35
Khawatirkan Inflasi 2026, Indef Sebut Moneter Harus Dorong Sektor Rill
JAKARTA, - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengkhawatirkan kondisi di awal 2026 sangat berisiko memicu inflasi.Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto merekomendasikan, bahwa kebijakan moneter dapat diarahkan untuk mendorong sebuah rill agar bisa meminimalisir risiko tersebut."Menurut kami, inflasi tahun depan cukup berisiko, terutama pada kuartal I dan II, sehingga kami berharap instrumen moneter juga punya peran kepada sektor riil, khususnya kalau yang mau disasar adalah inflasi pangan," dalam diskusi catatan akhir tahun Indef secara daring pada Senin .Baca juga: Sebulan Pasca-banjir Aceh, Distribusi Logistik Dinilai Belum Merata Ditambah InflasiIa menunjukkan berdasarkan data inflasi pada November 2025 masih terjaga dalam rentang target Bank Indonesia (BI), dengan realisasi 2,72 persen (year-on-year/yoy) pada rentang target 2,5 plus minus 1 persen.Namun, ia mencermati tren inflasi sepanjang 2025 cenderung menunjukkan peningkatan, dengan catatan historis 0,76 persen (yoy) pada Januari hingga 2,72 persen (yoy) pada November 2025.Menurut Eko trend tersebut berbeda dengan 2024 yang cenderung menurun dari 2,57 persen secara yoy pada Januari hingga 1,57 persen pada Desember 2024.Jika melihat data yang ada maka Indef memperkirakan inflasi akan melampaui level 3 persen di 2026.Jika dilihat dari sisi kebijakan moneter, Eko berpendapat ruang untuk menurunkan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) makin menyempit. Sementara dari sisi fiskal, suku bunga diharapkan dapat turun lebih rendah.Baca juga: Harga Emas Dunia Dekati Rekor, Sentimen Inflasi AS Jadi PendorongSelain itu, tambah dia, ada faktor musiman yang bisa mendorong inflasi, terutama terkait pangan. Memasuki awal tahun, curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi pasokan dan distribusi.Sedangkan pada kuartal I-2026 terdapat momentum lebaran yang biasanya menaikkan kebutuhan pangan.“Sehingga kecenderungan inflasi akan naik itu harus diatasi. Itu juga sekaligus merefleksikan bahwa agak sulit sepertinya suku bunga akan turun lebih jauh lagi di 2026, khususnya kuarta; I dan II, karena situasi inflasinya seperti ini,” tandasnya.


(prf/ega)