SITUBONDO, - Berjalan membungkuk berbaju batik lengan panjang dan bercelana pendek menggunakan topi jerami adalah keseharian Hairudin (67) dalam menggarap sawah titipan orang.Selain menjadi buruh tani, Hairudin juga bekerja sebagai penjaga makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalimas Desa Kalimas, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Pekerjaan itu sudah dilakukannya sejak 15 tahun yang lalu."Saya memang penjaga makam di sini tetapi saya juga garap sawah," katanya, Minggu .Baca juga: Sholikan, Setia Merawat Makam meski Tanpa Gaji dari PemerintahLebih tepatnya Hairudin bekerja serabutan. Pekerjaan apa pun yang disuruhnya akan dikerjakan asal ada upah yang didapatnya. Uang hasil kerja itu akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.Rumahnya berada di tanah makam. Luas makam TPU Kalimas sekitar 2 hektar lebih. Lahan yang luas itu masih terisi setengah pemakaman. Selebihnya terlihat hamparan luas rumput hijau."Saya buruh tani, sedangkan istri saya itu tukang pijat. Sehari-hari saya mencari rumput untuk kambing-kambing itu, semua ini milik orang," katanya.Baca juga: Kisah Hariyanto, Preman yang Pilih Jalan Hidup Jadi Juru Kunci Makam di SurabayaMenurutnya, bekerja sebagai penjaga makam tidak sulit. Setiap hari hanya membersihkan makam. Rumput-rumput liar dia potong sebisanya.Jika ada orang yang meninggal, dia akan menggali makam. Sekali menggali kubur dia dikasih upah sekitar Rp 200.000 sampai Rp 500.000. Namun, ketika tidak ada orang meninggal, maka kegiatannya hanya bersih - bersih."Rata-rata orang sini (Kalimas) menggali kubur itu dalam 1,7 meter, panjang 2 meter dan lebar 1 meter," ucapnya.Ketua Pengelola TPU Kalimas Sukartono (63) turut mendatangi wartawan saat berkunjung ke kompleks pemakaman itu. Dia datang dengan ekspresi wajah yang datar dan tanpa senyuman."Sudah 10 tahun saya menjadi pengelola. Sebelum saya ada, namun sudah meninggal," katanya.Dia berkeluh kesah tentang kondisi pengelolaan pemakaman di TPU Kalimas. Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah terkait dirinya dan teman-temannya selama ini."Kami tidak diperhatikan sama sekali oleh pemerintah, dari RT sampai kades tidak ada," ucapnya.Untuk memenuhi kebutuhan di makam, dirinya dan temannya-temannya meminta sumbangan seikhlasnya kepada ahli waris."Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti listrik ini kami minta iuran ke ahli waris, seikhlasnya, mereka rata-rata memberi kami Rp 3.000 sampai Rp 5.000 setiap 6 bulan dari warga perkampungan dan terkumpul Rp 250.000 sampai Rp 300.000. Kalau untuk perumahan itu lebih besar, biasanya terkumpul sampai Rp 2,5 juta untuk semuanya," katanya.
(prf/ega)
Cerita Penjaga Makam di Situbondo, Andalkan Sumbangan untuk Biaya Operasional
2026-01-12 04:38:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:11
| 2026-01-12 04:59
| 2026-01-12 03:57
| 2026-01-12 02:51










































