Mandiri Sekuritas: Penerbitan Obligasi Korporasi di 2026 Masih Semarak

2026-01-12 05:51:21
Mandiri Sekuritas: Penerbitan Obligasi Korporasi di 2026 Masih Semarak
JAKARTA, - Mandiri Sekuritas memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi atau surat utang akan tetap ramai pada 2026, seiring besarnya kebutuhan refinancing dan ekspansi dunia usaha.Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, mengatakan sepanjang tahun ini nilai penerbitan obligasi korporasi sudah mencapai sekitar Rp 200 triliun.Penerbitan obligasi korporasi diperkirakan masih akan tetap tinggi karena kebutuhan perusahaan untuk melakukan refinancing.Pada 2026, jumlah obligasi korporasi yang jatuh tempo mencapai Rp 160 triliun, sehingga banyak perusahaan perlu menerbitkan surat utang baru untuk menggantikan kewajiban yang segera harus dibayar.Baca juga: Terbitkan Obligasi Berkelanjutan, Bank Mandiri Bidik Kantongi Rp 5 Triliun“Penerbitan obligasi korporasi masih bisa cukup tinggi. Apa alasannya? Yang pertama untuk refinancing, 2026 itu ada sekitar Rp 160 triliun obligasi korporasi yang jatuh tempo,” ujar Handy saat Economic and Market Outlook 2026 Mandiri Sekuritas di Jakarta Selatan, Selasa .Selain kebutuhan refinancing, Mandiri Sekuritas juga melihat prospek ekonomi yang membaik akan mendorong emiten meningkatkan kapasitas usaha.Ia menilai banyak perusahaan mulai kembali mempersiapkan agenda ekspansi setelah perlambatan di tahun-tahun sebelumnya.Penurunan tren suku bunga turut menjadi faktor pendukung bagi emiten untuk masuk ke pasar obligasi.Dengan biaya pendanaan yang lebih rendah, penerbitan obligasi dinilai semakin menarik dibandingkan alternatif pendanaan lain.“Ini menjadi salah satu pilihan bagi emiten untuk menerbitkan obligasi dengan biaya yang lebih optimal,” paparnya.Dengan mempertimbangkan sejumlah kondisi tersebut, Mandiri Sekuritas optimistis penerbitan obligasi korporasi akan tetap semarak pada 2026.Berdasarkan data Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), penerbitan obligasi korporasi sejak awal tahun hingga September 2025 mencapai Rp 160,1 triliun atau melonjak 68,65 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.


(prf/ega)